Posted in: Umum

 Agen biologik

 Agen biologik

Toksin bakteri dapat mengakibatkan kerusakan dinding pembuluh darah dan trombosis.Toksin biasanya berasal dari bakteri yang virulensinya tinggi baik endogen maupun eksogen.Virus dan parasit juga dapat mengeluarkan berbagai enzim dan toksin yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi jaringan dan menyebabkan nekrosis (Pringgoutomo, 2012).

  1. Agen kimia

Natrium dan glukosa merupakan zat kimia yang berada dalam tubuh.Namun ketika konsentrasinya tinggi dapat menimbulkan nekrosis akibat gangguan keseimbangan osmotik sel. Beberapa zat tertentu dapat pula menimbulkan nekrosis ketika konsentrasinya rendah (Pringgoutomo, 2012).

Respon jaringan terhadap zat kimia berbeda.Misalnya, sel epitel pada tubulus ginjal dan sel beta pada pulau Langerhans mudah rusak oleh alloxan.Gas yang digunakan pada perang seperti mustard dapat merusak jaringan paru, gas kloroform dapat merusak parenkim hati serta masih banyak lagi (Pringgoutomo, 2012).

  1. Agen fisik

Trauma, suhu yang ekstrim (panas maupun dingin), tenaga listrik, cahaya matahari, dan radiasi dapat menimbulkan kerusakan inti sehingga menyebabkan nekrosis (Pringgoutomo, 2012).

  1. Hipersensitivitas

Hipersensitivitas (kerentanan) pada seorang individu berbeda-beda. Kerentanan ini dapat timbul secara genetik maupun didapat (acquired) dan menimbulkan reaksi imunologik kemudian berakhir pada nekrosis. Sebagai contoh, seseorang yang hipersensitif terhadap obat sulfat ketika mengonsumsi obat sulfat dapat timbul nekrosis pada epitel tubulus ginjal (Pringgoutomo, 2012).

Dampak/Akibat Nekrosis

  1. Secara umum nekrosis akan menyebabkan :
  2. Hilangnya fungsi daerah yang mati
  3. Menjadi focus infeksi dan merupakan media pertumbuhan yang baik untuk bakteri tertentu misalnya bakteri saprofit pada gangreng.
  4. Menimbulkan perubahan sistemik seperti demam dan peningkatan leokosit.
  5. Peningkatan kadar enzim-enzim tertentu dalam darah akibat kebocoran sel-sel yang mati
  1. Pada bayi baru lahir, nekrosis kortikalis terjadi karena:
  2. Persalinan yang disertai dengan abruptio placentae – sepsis bakterialis.  Pada anak-anak, nekrosis kortikalis terjadi karena:
  3. Infeksi
  4. Dehidrasi
  5. Syok
  6. Sindroma hemolitik-uremik.
  7. Sekitar 50% kasus terjadi pada wanita yang mengalami komplikasi kehamilan:
  8. Abruptio placenta
  9. Placenta previa
  10. Perdarahan rahim
  11. Infeksi yang terjadi segera setelah melahirkan (sepsis puerpurium)
  12. Penyumbatan arteri oleh cairan ketuban (emboli)
  13. Kematian janin di dalam rahim
  14. Pre-eklamsi  (Beulel, 2013)

Mekanisme Nekrosis

Seperti yang dijelaskan sejak awal, nekrosis merupakan kematian sel akibat cedera (jejas) yang bersifat irreversible.Ketika sel mengalami gangguan, maka sel akan berusaha beradaptasi dengan jalan hipertrofi, hiperplasia, atrofi, dan metaplasia supaya dapat mengembalikan keseimbangan tubuh. Namun, ketika sel tidak mampu untuk beradaptasi, sel tersebut akan mengalami jejas atau cedera. Jejas tersebut  dapat kembali dalam keadaan normal, apabila penyebab jejas hilang (reversible). Tetapi ketika jejas tersebut berlangsung secara kontinu, maka akan terjadi jejas yang bersifat irreversible (tidak bisa kembali normal) dan selanjutnya akan terjadi kematian sel (Kumar; Cotran & Robbins, 2008).

Sumber: https://rollingstone.co.id/jasa-penulis-artikel/