Asal Usul Manusia

Asal Usul Manusia

Menurut penyelidikan para ahli, sebelum akan ada manusia layaknya saat ini ini,
telah ada makhluk pendahulu manusia yang disebut Australopithecus, artinya
kera dari selatan. Mereka hidup pada 8 juta – 2 juta th. yang lalu. Keadaannya
mirip bersama dengan kera, tetapi jalannya tegak layaknya manusia. Mereka adalah jenis
pemakan tumbuh-tumbuhan dan daging (omnivorus). Mereka hidup di padangpadang
terbuka dan bertempat tinggal di gua-gua.

Dalam teori evolusinya, Charles Darwin (1809-1882) menyatakan bahwa
manusia dan kera adalah satu keturunan. Teori ini dikemukakan pada th. 1864.
Namun, pada selagi itu belum mampu ditemukan bukti, sehingga terkandung apa yang
disebut missing link, bermakna mata rantai yang hilang. Ketika E. Dubois menemukan
jenis mahkluk purba Pithecanthropus Erectus (1890), di Trinil, Ngawi lembah
Bengawan Solo, penemuannya dianggap sangat penting. Sebab, makhluk ini
dianggap sebagai missing link layaknya yang dikemukakan oleh para ahli.
Berdasarkan penyelidikan mampu diketahui bahwa model manusia ini mempunyai
isi atau volume otak 900 cc. Duduk kepalanya di atas leher, tulang keningnya
menonjol ke muka, bagian hidung bergandeng jadi satu. Ciri-ciri lainnya,
tulang dahinya lurus ke belakang, tulang kakinya udah lumayan besar, gerahamnya
masih besar. Dari ciri-ciri selanjutnya mampu diambil alih kesimpulan bahwa model manusia
itu merupakan makhluk yang kedudukannya pada manusia dan kera, tetapi
sudah mampu berlangsung tegak. Penemuan selanjutnya di dalam dunia ilmu dianggap
sangat penting sebab jadi bukti dan mampu memecahkan permasalahan
yang dikemukakan oleh Charles Darwin di dalam Teori Evolusinya.

Ditinjau dari sudut biologi (ilmu hayat), manusia merupakan tidak benar satu dari
sejuta lebih model makhluk yang ada dan terhitung golongan binatang menyusui
atau mamalia. Dalam kelas mamalia yang merupakan kelas besar mampu dibagi
atas suku diantaranya ada yang disebut suku Primat. Termasuk di dalam suku
Primat adalah manusia model kera, mulai dari yang kecil (Tarsii) hingga pada
yang besar, layaknya Gorila dan manusia masuk di dalamnya.
Suku Primat terbagi ke di dalam subsuku, yakni subsuku Prosimii dan subsuku
Anthropoid. Para pakar biologi menempatkan manusia ke di dalam suku-suku
Anthropoid, yang lantas masih dibagi kembali jadi tiga infrasuku, yaitu
infrasuku Ceboid, infrasuku Cercopithecoid, dan infrasuku Hominoid. Dalam
infrasuku Ceboid terhitung seluruh model kera, baik yang udah punah maupun

Artikel Lainnya : https://tokoh.co.id/biodata-blackpink-all-member-dan-fakta-terlengkap/

yang saat ini masih hidup di daerah khatulistiwa, terlebih di benua Amerika;
dalam infrasuku Cercopithecoid terhitung seluruh model kera, baik yang telah
punah maupun yang saat ini hidup di kawasan tropis benua Asia dan Afrika;
dan di dalam infrasuku Hominoid terhitung seluruh model kera besar dan manusia.
Infrasuku Hominoid lantas secara lebih khusus dibagi kembali ke di dalam dua
keluarga, yakni Pongidae dan Hominidae. Keluarga Pongidae adalah beberapa
jenis kera besar yang hidupnya terlebih di daerah Asia dan Afrika (misalnya
kera Gibbon, Orangutan, Simpanse dan Gorila) sedangkan keluarga Hominidae
adalah manusia purba model Pithecantropus dan Neandertal, dan juga manusia yang
ada saat ini yang disebut Homo Sapiens, bermakna manusia cerdas. Fosil jenis
Pithecantropus ditemukan di Jawa, sedangkan fosil model Neandertal ditemukan
di Dusseldorf di Jerman. Secara lebih khusus Homo Sapiens terbagi ke dalam
empat ras, yakni ras Australoid, ras Mongoloid, ras Caucasoid, dan ras Negroid.

Baca Juga :