BUTUH MASYARAKAT YANG PEDULI
Posted in: Umum

BUTUH MASYARAKAT YANG PEDULI

BUTUH MASYARAKAT YANG PEDULI

BUTUH MASYARAKAT YANG PEDULI
BUTUH MASYARAKAT YANG PEDULI

Beberapa saat yang lalu ada tiga berita utama yang ramai menghiasi mass media : kontroversi penayangan Smackdown, pernikahan kedua Aa’ Gym, dan beredarnya video mesum YZ yang menghebohkan. Semuanya menarik untuk dibicarakan karena respon masyarakat yang begitu luar biasa dalam menyikapinya. Masyarakat beramai-ramai menuntut penghentian tayangan Smackdown yang telah menelan beberapa korban akibat meniru gerakan berbahaya yang mereka tonton lewat televisi. Tak kurang ribuan sms masuk ke nomor SBY memprotes praktik poligami Aa’ Gym. Sampai tulisan ini dibuat YZ dan ME, pasangan mesumnya, telah mengundurkan diri dari jabatan masing-masing dan menghilang dari public untuk sementara waktu. Meskipun demikian kontroversi seputar adegan mesum mereka tersebut masih ramai dibicarakan khalayak.


Pertanyaan yang mengemuka di hadapan public adalah “mengapa itu semua bisa terjadi”? Mengapa Smackdown bisa memakan korban sedahyat itu? Bukankah ada banyak tayangan kekerasan yang lebih sadis dibandingkan dengan pertarungan bohong-bohongan ala Smackdown itu? Kok bisa-bisanya seorang ikon dakwah nasional sekaliber Aa’ Gym melakukan poligami, bukankah beliau yang selama ini gencar mempromosikan model keluarga sakinah, lalu kenapa menikah lagi yang sudah pasti akan melukai hati “ibu-ibu” penggemarnya? Sedangkan yang terakhir, kok bisa-bisanya seorang anggota DPR/RI, ketua bidang kerohanian di partai tempatnya bernaung, bahkan dulunya pernah menjadi ketua umum organisasi mahasiswa Islam yang mentereng itu terekam lewat handphone melakukan adegan syuur dengan penyanyi dangdut yang bukan istrinya?.

Fenomena yang terjadi di atas sebetulnya tidak terlalu mengagetkan. Teknologi informasi telah mempengaruhi kita melalui kehadirannya (physical presence) dan muatan isinya (content). Apalagi pengunaan teknologi informasi selama ini cenderung mengarahkan masyarakat pada kegiatan rekreatif daripada edukatif. Padahal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi, memberikan andil yang cukup besar dalam upaya penyeragaman nilai-nilai global seperti : perilaku aggresif (aggresiveness), sekularisme, perilaku seksual yang semakin longgar (sexual permissiveness), konsumerisme. Penetrasi nilai-nilai ini telah menempatkan kedudukan media, menjadi seperti yang dikatakan oleh Majid Tehranian, yakni sebagi “tirani kognitif”. Massa penikmat media digiring ke dalam sikap konformisme yang menjadi basis legitimasi mereka.

Jatuhnya korban anak-anak akibat mempraktekkan adegan kekerasan yang mereka tonton lewat layar kaca menjadi bukti adanya peningkatan perilaku aggressive pada anak-anak. Sebetulnya generasi terdahulu juga mengalami gejala serupa namun mereka lebih bisa menyalurkan aggresivitas mereka melalui permainan-permainan komunal semacam : gobak sodor, lompat tali, petak umpet, hingga bermain sepak bola kampung. Penyaluran semacam ini yang tidak dimiliki oleh anak-anak generasi sekarang. Waktu mereka tersita habis untuk sekolah ataupun les privat. Kalopun mereka bermain, permainan yang mereka lakukan cenderung bersifat individual dibanding komunal. Dengan hanya menonton televisi, bermain playstation misalnya, tidak mampu menyalurkan aggresivitas mereka. Akibatnya adegan-adegan kekerasan yang mereka lihat hanya “terekam” di dalam otak untuk selanjutnya akan meledak sewaktu-waktu.

Dari sudut pandang agama, apa yang dilakukan oleh Aa’ Gym dengan berpoligami bukanlah barang baru. Sudah sejak lama itu menjadi perdebatan di kalangan ulama. Kenyataan itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari sosiologi masyarakat kita. Namun persoalannya bukan pada boleh atau tidaknya yang bersangkutan untuk menikah lagi, namun pada kebutuhan masyarakat luas akan hadirnya seorang figure ideal yang bisa dijadikan sumber inspirasi mereka dalam menjalani kehidupan yang semakin rumit ini. Sesungguhnya criteria masyarakat, terutama ibu-ibu, sudah benar ketika menjadikan Aa’ Gym sebagai panutan. Aa’ Gym adalah seorang da’i kondang, fatwa-fatwanya didengarkan secara luas karena isi dakwahnya menyejukkan, temanya ringan, dan penyampaiannya sederhana. Namun kita harus mafhum bahwa audience sekaligus fans Aa’ Gym rata-rata berasal dari kalangan menengah ke atas, khususnya ibu-ibu, yang “mentabukan” praktek poligami. Wajarlah jika kemudian mereka melakukan aksi protes yang cukup canggih : lewat SMS!

Nah, disinilah sekularisasi terjadi. Sekularisasi yang dimaksud disini bukanlah pemisahan antara isu-isu agama dan negara sebagaimana dalam diskursus politik namun dimaknai sebagai pergeseran nilai-nilai yang semula dianggap sacral (sacred) menjadi profane belaka. Pernikahan yang sebelumnya dianggap sebagai perjanjian agung (miitsaqon gholidz) ternyata hanya menjadi kontrak dua tubuh berlawanan jenis yang bisa berubah seiring waktu tergantung kesepakatan. Perbedaan antara menjaga kemaluan dengan memperturutkan hawa nafsu sudah sangat tipis. Masyarakat dibuat bingung membedakan antara dalil dengan dalih belaka. Seorang da’i kondang yang selama ini menjadi tempat curhat ibu-ibu atas permasalahan keluarga kini justru menjadi “basis legitimasi” atas akar permasalahan yang mereka hadapi selama ini. Suami-suami dengan entengnya berseloroh: “Poligami itu fitrah. Tuh, kyainya aja poligami masak aku yang sama-sama laki-laki normal nggak boleh.” .Mungkin ini salah satu pemicu protes massal ibu-ibu lewat sms tersebut.

Sebelum adegan mesum YZ dan ME beredar, masyarakat sudah disuguhi rekaman serupa dengan actor berbeda. Anak Langusan, Bandung Lautan Asmara, Video Itenas hingga heboh kasus Koko Roy yang mendokumentasikan aksi cabulnya pada anak-anak di bawah umur. Rentetetan kejadian itu semakin mempertegas kenyataan bahwa perilaku seksual masyarakat sudah sedemikian longgar (sexual permissiveness). Ini bisa dilihat dari gaya pacaran anak-anak sekarang dan modus perselingkuhan orang-orang dewasa yang tidak hanya beragam namun “lebih berani”. Perkembangan ini tidaklah mengagetkan jika kita melihat tayangan-tayangan di televisi yang mengeksploitasi birahi, pergaulan bebas, dan seksualitas. Belum lagi perkembangan internet yang memungkinkan anak-anak Sekolah Dasar bisa mengakses gambar bugill dan video porno dengan mudah.

Begitulah kehebatan media ketika sudah menjadi “tirani kognitif” bagi penikmatnya. Masyarakat awam seringkali menjadi korban karena menelan tawaran media secara mentah-mentah. Ke depan, tantangan bagi para pendidik semakin berat. Sebab selain harus merumuskan pendidikan yang holistic mereka harus mampu tampil sebagai teladan. Padahal pada kenyataannya mereka sudah kalah pamor dibandingkan dengan idola-idola popular yang terus direproduksi lewat media. Disini diperlukan sinergitas antara guru-guru di sekolah, orang tua, pemuka agama dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama merespons perubahan lewat media yang sedemikian cepat berkembang. Mereka harus menjadi sebuah komunitas yang peduli (caring community) lewat pengajian rutin, arisan kampung, atau pertemuan wali murid. Disana bisa dibahas mengenai strategi bersama untuk merespons media secara kritis. Komunitas semacam ini bisa berfungsi sebagai filter sekaligus penyeimbang atas segala informasi yang ditawarkan oleh media.Pilihan ini paling efektif dibandingkan dengan “membreidel’ seluruh media.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/frontline-shooter-apk/