Daya Intelektual Anak Muda NU
Posted in: Umum

Daya Intelektual Anak Muda NU

Daya Intelektual Anak Muda NU

Daya Intelektual Anak Muda NU
Daya Intelektual Anak Muda NU
 Peneliti Sosial Relijius Liga Berpikir Bebas

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi gagasan mutakhir yang disuarakan di pagi buta oleh Kang Ulil dari Cambridge mengenai pertimbangan ulang aplikasi metodolgis dan aksiologis ru’yah dan hisab. Tulisan asli kang ulil tidak ditampilkan lagi di sini karena dapat diakses dari milis-milis jaringan NU misalnya di KMNU atau NU-Network.

Red

Sebetulnya saya tidak terlalu respek dengan perbincangan ini. Bagaimana tidak? Ini memang persoalan penting bagi umat. Namun, seharusnya, kontroversi ini tidak serta merta menutupa mata NU dari realitas yang berkembang sekarang yang bahkan terasa lebih penting, lebih menggetarkan hati, lebih menggerakkan keimanan kita yang selalu berputar-putar pada hal yang sebetulnya “sudah pernah dipikirkan banyak orang”. Mbok ya, kita ini urunan nyicil masalah-masalah yang belum dipikirkan (unthinked space) biar menjadi bangsa yang maju, sebagaimana yang dianjurkan Arkoun.

Tadi malam saya melihat warga rusun di Pulomas diusir paksa oleh petugas dengan kekerasan. Hebatnya lagi itu dilakukan di bulan yang mulia ini di saat Jakarta dipimpin oleh orang NU. Saya tidak mau mengekploitasi fakta ini sedemikian rupa. Feeling saya mengatakan tidak banyak orang NU yang “tune in” sekaligus tergerak untuk melakukan sesuatu pada isu-isu beginian, even PBNU!!!

Meskipun demikian prinsip “al muhafazah ala qadiim al shaalih wa al akhdzu bi aljadiidi al ashlah” memaksa kita sebagai generasi nahdliyin untuk selalu memperkuat pemahaman kita tentang tema-tema yang melibatkan NU di dalamnya. mau tidak mau-suka tidak, kita akan selalu kecangkhing karena keNUan kita.

Persoalan penentuan hari raya idul fitri memang masih dilematis. bagi saya, inibukan Thanksgiving atau halloween day, ato upacara tujuh belas agustusan. Sehingga nggak perlu mengimajinasikan harus sama seluruhnya. Karena bila dua metoda yang berbeda , ru’yat vs hilal, digunakan untuk menganalisis persoalan yang sama maka kemungkinan perbedaan akan amat sangat terbuka. Hanya saja satu hal yang mesti disepakati adalah apakah hal ini, penentuan hari raya idul fitri, termasuk dalam wilayah ta’aqquli atau ta’abbudi????. Dalam hal ibadah khusus biasanya digunakan prinsip ta’abbudi. Sehingga kita tidak perlu lagi mendiskusikan jumlah raka’aat dalam sholat, misalnya. Sedangkan dalam hal ibadah umum dan atau muammalah kita dianjurkan untuk memakai pendekatan ta’aqquli (rasionalitas) sesuai dengan prinsip kemaslahatan dimana dan kapan iaditerapkan. Hukum potong tangan, misalnya, ditolak (baca: tidak diterapkan) dibeberapa wilayah berpenduduk muslim karena pendekatan ini.

Tulisan mas ulil sudah dibahas oleh Pak Zahro dari IAIN setahun yang lalu dan isinya kurang lebih sama. masalahnya, menurut saya, tetep pada pendekatan yang kita pakai. Kalo saja penentuan hari raya ini dianggap ibadah khusus maka ia mau tidak mau harus mengikuti ketentuan hukum islam. Namun bila ia dianggap ibadah umum, apalagi disebut sebagai “karnaval sosial”, maka dengan sendirinya segala rasionalisasi dari mas ulil bisa kita terima, mungkin. Seingat saya, ini sama seperti ide yai masdar yang mengusulkan penambahan waktu pelaksanaan ibadah haji selain bulan haji karena “berkumpulnya” ratusan ribu manusia dalam satu tempat dan satu waktu justru menjadi kemudharatan baru. Atau usulan ibu musdah mulia tentang penghapusan masa iddah bagi perempuan modern karena “isi perut”nya bisa diketahui meskipun belum mencapai 3 bulan.

Hanya ada satu hal yang harus kita pikirkan ulang. Kita selalu terbuai dengan”nilai-nilai universal”, “nilai-nilai global” yang membuat kita merasa perlu mendefinisikan ulang praktik keimanan dan kepercayaan kita selama ini. Saya tidak keberatan dengan gaya berfikir seperti ini. Hanya saja saya agak khawatir nilai-nilai tersebut sebenarnya adalah nilai-nilai yang partikular juga. Namun karena ia dianut oleh “amerika”, “bangsa barat”, “pusat dunia” maka kita tergerak untuk “melayani” mereka “dzahiron wa bathinan”. Artinya kalorasionalisasi diterima sebagai pembenaran atas segala sesuatu ,yang sebenarnya harus menganut prinsip ta’abbudi, maka agama ini akan berada pada wilayah profan seluruhnya. Saya tidak mencoba mengkonfrontir dengan konsep sekularisasi. hanya saja , menurut saya, dalam beragama masih saja ada wilayah sakral yang harus kita jaga sama-sama. ‘ala kulli hal. Semoga Allah mengembalikan kita pada Kesucian kita sebagai manusia sebagaimana awal kejadian kita.Suci bersih, lahir batin, dunia akhirat.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/magic-nightfall-apk/