Di Era Disrupsi Para Star-up Wajib Kembangkan Inovasi

Di Era Disrupsi Para Star-up Wajib Kembangkan Inovasi

Di Era Disrupsi Para Star-up Wajib Kembangkan Inovasi

Di Era Disrupsi Para Star-up Wajib Kembangkan Inovasi
Di Era Disrupsi Para Star-up Wajib Kembangkan Inovasi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) memiliki Brawijaya Economic and Business Forum

(BRIEF). BRIEF bekerjasama dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dalam membahas isu-isu strategis di bidang ekonomi Indonesia dan dunia.

BRIEF dan CSIS menggelar seminar bersama Direktur CSIS Dr. Philips J. Vermonte serta pembicara dari Staf Khusus Presiden, Prof. Ahmad Erani Yustika, Peneliti Senior CSIS, Haryo Aswicahyono, Ph.D, Peneliti Ekonomi CSIS, Adinova Fauri.

Mereka juga menjalin kerjasama dibidang pertukaran informasi, penelitian bersama, kolaborasi akademik, pendidikan dan pelatihan, peningkatan SDM, serta kerjasama lainnya. Baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Prinsipnya seperti yang dikatakan rektor tadi, universitas yang bagus ya kerjasamanya harus banyak.

Untuk CSIS sendiri, bekerjasama dengan lembaga pemerintah maupun non pemerintah,” ujar Dekan FEB UB, Nurkholis.

Dalam forum ini, juga membahas disrupsi teknologi saat ini, yang terjadi sebuah pergeseran atau hijrah dari pola industri gaya lama menjadi sebuah industri yang berbasiskan teknologi dan pengetahuan. Perubahan juga terjadi dari industri yang berbasiskan sumber daya menuju industri yang berbasiskan pengetahuan, dari produksi massal menuju kolaborasi massal, dari pendekatan top down menuju kolaborasi horisontal, dan dari padat karya menuju padat modal dan teknologi.

“Start up itu adalah isu yang sekarang ini lagi dibicarakan banyak orang dan besar sekali pengaruhnya.

Kalau sudah muncul perkembangannya semakin pesat, dan itu mempengaruhi banyak sektor. Dan disrupsi terjadi di situ,” katanya.

Sementara itu, Peneliti Ekonomi CSIS, Adinova Fauri mencontohkan disrupsi teknologi adalah Grab. Perusahaan perjalanan yang didirikan oleh pemuda ini berhasil memberikan kontribusi Rp 46,2 triliun ($ 3,3 miliar) kepada perekonomian informal Indonesia tahun lalu dalam bentuk pendapatan tambahan untuk pengemudi dan pedagang makanan.

Kontribusi Grab berasal dari tiga unit bisnis perusahaan, yakni GrabBike (Rp 15,7 triliun), GrabCar (Rp 9,7 triliun) dan GrabFood (Rp 20,8 triliun).

“Bahkan, dengan adanya Grab, para pedagang makanan, yang semuanya adalah usaha mikro dan kecil, juga mengalami peningkatan rata-rata 25 persen dalam penjualan harian dari rata-rata Rp1,4 juta menjadi Rp1,85 juta,” ujarnya.

Sedangkan Peneliti Senior CSIS, Haryo Aswicahyono, mengatakan, jika menginginkan perekonomian di Indonesia bertumbuh, maka tidak hanya berfokus pada komoditas, melainkan mulai beralih ke sektor manufaktur berbasis teknologi.

 

Baca Juga :