Indonesia Lambat Cetak Guru Besar

Indonesia Lambat Cetak Guru Besar

Indonesia Lambat Cetak Guru Besar

Indonesia Lambat Cetak Guru Besar
Indonesia Lambat Cetak Guru Besar

Ketua Umum Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia

(ABP-PTSI) Pusat Thomas Suyatno menegaskan, dunia pendidikan tingkat tinggi di Indonesia laju perolehan gelar Guru Besar (Profesor) masih terbilang lambat.

Idealnya, kata Ia, setiap Perguruan Tinggi sebelum memperoleh akreditasi A dari LLDIKTI maka paling tidak sudah memiliki Guru Besar sebanyak 10 persen dari total dosen yang ada.

Di salah satu Perguruan Tinggi, sebut saja Universitas Atma Jaya Jakarta, dari total 296 dosen, guru besarnya lebih dari 100 orang. Begitu pula di Perguruan Tinggi Moestopo. Pihaknya sebagai Dewan Pembina di Universitas Moestopo menetapkan paling tidak setiap tahun jumlah Guru Besar bertambah 3 orang.

“Itu prinsip dan etisnya setiap fakultas harus menghasilkan 6 doktor setiap tahun

,” ungkap Thomas Suyatno di Unswagati Cirebon, Rabu (12/9).

Kualifikasi doktoral pun, kata Ia, mustinya lulusan Perguruan Tinggi Luar Negeri, bukan lokal ataupun nasional. Tujuannya, agar memperbanyak networking.

“Bukan masalah kualitas tapi juga masalah networking,” ujarnya.

Ia mengakui, untuk mencapai target ideal di dunia pendidikan tingkat tinggi, untuk menuju target tersebut dibutuhkan perjuangan yang sangat berat. Tantangannya sangat berat. Ada 2 problematika yang masih melingkari dunia pendidikan tingkat tinggi. Pertama, kata Ia, ketersediaan guru besar yang masih terbatas.

Sebagai upaya mempercepat peningkatan SDM, dalam waktu dekat pihaknya

akan menggelar seminar nasional dengan menghadirkan Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristek Dikti.

“Tanggal 25 nanti ada seminar nasional di Bandung nanti Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Prof Ali Ghufron Mukti kita hadirkan dan kita kumpulkan sekitar 450 doktor di Jawa Barat dan Banten untuk mendapatkan berbagai arahan untuk bagaimana percepatan dan strategi percepatan Guru Besar,” sebutnya.

Andai dari 450 doktor tersebut dihasilkan 10 persen untuk dicetak sebagai Guru Besar, maka ada penambahan Guru Besar sebanyak 45 orang.

“10 persennya saja dari 450 berarti sudah 45 orang,” paparnya.

Tantangan berikutnya, ialah masalah egoisme. Artinya, ruang lingkup beban mengajar guru besar terikat oleh aturan badan penyelenggara (Yayasan) atau dari Penanggungjawab Pelaksana (Rektorat). Di mana, kata Ia, biasanya guru besar tidak diperkenankan untuk mengajar di perguruan tinggi lain.

Sepanjang untuk meningkatkan kualitas SDM para dosen, menurutnya, tidak jadi persoalan. “Guru besar juga bisa dipakai di universitas-universitas lain. Saya saja di Atma Jaya, saya juga dosen S3 di Unpad dan Pelita Harapan,” paparnya.

Disinggung soal penyerapan calon mahasiswa pada tiap tahunnya, Thomas menyebutkan, jumlah serapan calon peserta didik di tingkat perguruan tinggi secara nasional tidak lebih dari 50 persennya saja dari total keseluruhan siswa lulusan tingkat menengah se-Indonesia tiap tahun ajaran baru.

“Maksimal dari SMA/SMK yang bisa ke kampus tidak lebih dari 50 % dengan jumlah kampus se-Indonesia berjumlah 4.421 kampus. Tetap ini mempunyai keterbatasn-keterbatasan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, aspek peningkatan mutu pendidikan tidak saja dari sisi sarana dan prasarana, melainkan juga peningkatan mutu SDM. Sarana dan prasarana tidak selalu ditafsirkan dengan gedung, laboratorium dan sebagainya. Dosen pun, tegas Thomas, bagian dari ketersediaan sarana dan prasarana.

“Sementara pembangunan fisik di stop saja dulu. Prioritaskan pembangunan SDM nya dan lab-lab nya,” kata Dia.

Begitu pula pengembangan di bidang usaha. Pendidikan di satu sisi sebagai sarana sosial, bidang usaha di sisi lain sebagai penunjang kebutuhan operasional. Sebab, kemampuan biaya operasional yang dibebankan kepada mahasiswa oleh setiap perguruan tinggi itu sangat terbatas.

“Makanya yayasan harus punya badan usaha, sebab tantangan ke depan tidak melulu dibebankan kepada mahasiswa. Sementara hanya 69 persen saja dari total operasional yang dari mahasiswa,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://dogetek.co/sejarah-hari-pramuka-14-agustus/