Posted in: Umum

keagamaan yang bersifat mistik itu dikenal dengan tasawuf

Posisi Islam Dalam Tasawuf : Syariat dan Hakikat

Pada sebagian umat Islam, respon terhadap kehadiran Tuhan diekspresikan dalam bentuk ibadah fromal, seperti shalat, pauasa, haji dan berdoa. Sebagian yang lain merasa tidak cukup hanya dengan melaukan itu, lebih jauh mereka mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat-dekatnya. Cara yang disebut terakhir ini dinamakan tasawuf atau mistisme Islam.[20]
Dalam Islam, keagamaan yang bersifat mistik itu dikenal dengan tasawuf. Kaum orientalis menyebutnya sufisme. Sufisme bertujuan memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan. Initisari dari sufisme adalah kesadaran akan adanya komunikasi rohaniah antara manusia dengan Tuhan melalui kontemplasi.
Untuk memahami keberadaan agam Islam perlu dikaji dan ditelaah dengan tiga prespektif; filosofis, sosio-historis, dan spiritual mistikal. Hail ini sejalan dengan dengan trilogi agama Islam berupa wacana iman (lingkup filosofis), Islam (lingkup sosio-historis), dan ihsan (lingkup spiritual). Untuk memahami trilogi keagamaan diatas diperlukan perangkat-perangkat yang mendukung dalam mengaktualisasikannya. Iman memunculkan cabang ilmu tauhid (ilmu kalam, ushuluddin) untuk memahami dan mengimani keberadaan Allah. Islam memunculkan ilmu fiqh beserta ushul fiqh untuk menggali ilmu-ilmu hukum atau syariat Islam. Sementara itu, ihsan memunculkan ilmu tasawuf beserta cabang-cabangnya unutk mendekatkan diri kepada Allah.
Kajian-kajian tasawuf tidak lain adalah mementingkan kebersihan batin dan kesucian jiwa. Karena itu, bisa dikatakan bahwa tasawuf yang berasal dari ihsan merupakan roh atau jiwa dari iman dan islam. Iman sebagai pondasi yang ada pada jiwa seseorang dari hasil perpaduan antara ilmu dan keyakinan, pelaksanaannya yang berupa tindakan badaniah (ibadah lahiriah) disebut Islam. Perpaduan antara iman dan islam pada diri seseorang akan menjelma dalam pribadi dalam bentuk akhlak atau disebut ihsan.

Oleh karena itu, kedudukan tasawuf dalam Islam sangat penting dan tidak bisa dipisahkan.[21]

a. Syariat
Syariat artinya undang-undang atau garis-garis yang telah ditentukan termasuk di dalamnya hukum-hukum halal dan haram, yang diperintah dan dilarang, sunnah, makruh, serta mubah. Syariat dipandan oleh orang-orang sufi sebagai ajaran Islam yang bersifat lahir. Menurut kaum sufi, syariat sebagai amalan-amalan lahir yang difardhukan dalam agama yang dikenal dengan rukun Islam dan segala hal yang berhubungan dengan itu bersumber dari Alqur’an dan Hadits. Oleh karena itu, bagi seseorang yang ingin memasuki dunia tasawuf harus lebih dahulu mengetahui secara mendalam isi ajaran Alqur’an dan hadits yang dimulai dengan amalan lahir, baik yang wajib maupun sunnah.
Dengan demikian, setiap sufi pada hakikatnya adalah orang-orang yang telah mengamalkan perintah Allah secara baik, benar tuntas, dan menyeluruh. Tanpa melalui tahapa ini seseorang tidak akan mampu naik ke jenjang yang lebih tinggi. Jika ada orang yang mengaku sebagai pengamal ajarn sufi tetapi ia meninggalkan syariat, dapat dikatakan bahwa ia telah mengikuti ajaran sesat.[22]

b. Hakikat
Hakikat secara etimologi berarti inti sesuatu, puncak atau sumber asal dari sesuatu. Dalam dunia sufi, hakikat diartikan sebagai aspek lain dari syariat yang bersifat lahiriah, yaitu aspek batiniah. Degan demikian hakikat dapat diartikan sebagai rahasia paling dalam dari segala amal, inti dari syariat, dan akhir dari perjalanan yang ditempuh seorang sufi.
Menurut Al-Qusyairi, “setiap syariat tanpa diperkuat dengan hakikat tidaklah diterima, dan setiap hakikat yang tidak dilaksanakan menurut ketentuan syariat adalah kosong.” Dalam hal ini, kata syariat menurut sebagian kaum sufi diartikan dengan perintah dalam melaksanakan ibadah dan hakikat diartikan dengan musyahadah terhadap Tuhan.[23]
Untuk memperjelas hubungan antara syariat dan hakikat, kita berikan contoh shalat. Melakukan gerakan-gerakan shalat dan pekerjaan-pekerjaan lahiriahnya, memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, serta hal-hal lain yang disebutkan oleh para ulama fiqh, merupakan sisi syariat, yaitu jasad shalat. Sedangkan hadirnya hati bersama Allah dalam shalat merupakan sisi hakikat, yaitu roh shalat.[24]
Dengan sampainya seseorang ke tingakat hakikat berarti telah terbuka baginya rahasia yang terkandung dalam syariat. Ia dapat memahami dan menghayati segala kebenaran, bahkan dapat mengetahui hal-hal yang bertalian denga Tuhan. Jadi, hakikat adalah mengetahui inti yang paling dalam dari sesuatu sehingga tidak ada yang tersembunyi bagniya.


Sumber: https://swatproject.org/