Posted in: Umum

Konflik antara ABRI dan mahasiswa

ABRI dan Mahasiswa

Konflik antara ABRI dan mahasiswa pada masa orde baru sangatlah sering terjadi. Mahasiswa yang mempunyai pemikiran kritis seringkali melakukan demo turun ke jalan untuk memprotes setiap kesalahan pemerintah saat itu. Banyak sekali contoh perselisihan antara kedua pihak yang disebut sebagai kampiun demokrasi. Mulai dari peristiwa Rene Conrad pada 1970 yang merupakan salah satu mahasiswa ITB Bandung yang mengalami pengeroyokan dan penembakan oleh para taruna akpol 1970 yang merupakan hasil integrasi AMN, AAL, AAU, dan Akpol.[1] Kemudian ada juga peristiwa Malari yang terjadi pada 15 Januari 1974 yang awalnya merupakan aksi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa terhadap kedatangan PM Jepang, Kakuei Tanaka ke Jakarta. Demonstrasi ini merupakan wujud penentangan mahasiswa atas penanaman modal asing. Demonstrasi ini berujung dengan kerusuhan dan pertikaian sehingga kerugian material diketahui ada 807 mobil dan 187 motor yang dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak berat, 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan. Peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak tindakan represif yang dijalankan pemerintahan Orde Baru.

Lalu ada Peristiwa Trisakti 1998,

yang menjadi catatan buram dari peristiwa ini ialah kasus penembakan terhadap mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatan yang berkibat pada meninggalnya empat mahasiswa Trisakti ditambah dengan puluhan korban luka-luka. Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, leher, dan dada.[2] Terdapat pula Peristiwa Semanggi I dan II yang juga diawali demo dan diakhiri dengan kerusuhan yang menimbulkan banyak sekali korban meninggal maupun luka-luka. Ini adalah pemicu awal terjadinya perubahan besar di Indonesia tahun 1998. Seperti yang telah diperkirakan bahwa Tragedi Trisakti berbuntut panjang. Dari tanggal 13-15 Mei 1998, terjadi serangkaian aksi kekerasan massa di berbagai kota, termasuk di Jakarta dan Solo yang merupakan kota yang paling parah dilanda kerusuhan. Bahkan, B.J. Habibie mengungkapkan bahwa kerugian akibat kerusuhan Mei 1998 jauh lebih buruk bila dibandingkan dengan Peristiwa Malari di Jakarta ataupun kasus 27 Juli 1996.[3]

Bahkan, di kampus UNS juga sempat terjadi konflik antara ABRI dengan mahasiswa pada 8 Mei 1998 yang disebut “Aksi Jumat Berdarah”. Menurut Solopos, ketika mahasiswa hendak melakukan Sholat Jumat di bagian jalan Ir. Sutami kemudian dihalau aparat dengan pentungan dan juga semprotan gas air mata. Dan diyakini terdapat sedikitnya 7 orang yang diduga hilang serta 400 korban cedera. Selain yang telah disebutkan di atas, ABRI mempunyai citra buruk lain, seperti pelanggaran hukum menyangkut uang palsu, penyelundupan BBM, kasus narkoba, dan kasus peledakan bom di BEJ.

Setelah beberapa kejadian seperti yang telah disebutkan di atas, terdapat pula aksi penculikan dan bahkan diakhiri dengan pembunuhan para aktivis-aktivis maupun mahasiswa yang dinilai telah mengkritik pemerintah. Peristiwa penculikan atau penghilangan secara paksa ini terjadi menjelang pemilu tahun 1997 dan Sidang Umum MPR 1998. Menurut Komnas HAM, dipercaya berlangsaung dalam tiga tahap, yaitu : menjelang pemili Mei 1997, bulan Maret menjelang sidang MPR dan menjelang pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998. Selama periode 1997/1998, KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) telah mencatat terdapat 23 orang lebih yang telah dihilangkan oleh aparat negara. Komnas HAM-pun menilai bahwa tindakan tersebut telah menjadi pelanggaran HAM berat, dan pihak yang dinilai paling bertanggung jawab adalah Tim Mawar[4]. Salah tokoh yang dinilai ikut bertanggungjawab atas Tim Mawar tersebut adalah Danjen Kopassus Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto dan Danjen Kopassus Mayjen TNI Muchdi PR yang akhirnya mendapatkan pengakhiran masa dinas TNI. Karena menurut hasil temuan Dewan Kehormatan Perwira telah menyatakan bahwa penculikan tersebut dilakukan atas perintah dan sepengetahuan para pimpinan Kopassus saat itu.

Recent Posts