Langkah Pembelajaran Apresiasi Sastra

Langkah Pembelajaran Apresiasi Sastra

Langkah Pembelajaran Apresiasi Sastra

Langkah Pembelajaran Apresiasi Sastra
Langkah Pembelajaran Apresiasi Sastra

Menurut Moody (1971) pembelajaran apresiasi sastra mengikuti penahapan :

1) Pelacakan pendahuluan, 2) penentuan sikap praktis, 3) introduksi, 4) penyajian, 5) diskusi, dan 6) pengukuhan. Keenam tahap tersebut rinciannya sebagai berikut. Masing-masing disajikan secara rinci pada bagian berikut ini.

Pertama, pelacakan pendahuluan. Pada tahap ini guru mempelajari karya sastra. Pemahaman terhadap karya sastra penting agar guru dapat menentukan strategi yang tepat, dapat menentukan aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian yang khusus dari siswa. Misalnya pengulangan yang kuat seperti yang ditunjukkan dalam puisi Perempuan-perempuan Perkasa pada larik yang berbunyi Perempuan-perempuan yang membawa bakul … harus mendapat perhatian para siswa. Mengapa pengulangan ini demikian kuat. Apakah artinya? Apakah tidak memiliki efek bagi puisi ini secara keseluruhan? Kalau ada efeknya, bagaimanakah efek dari pengulangan ini?

Hal lain yang harus diperhatikan dalam pelacakan pendahuluan ini ialah meneliti fakta-fakta yang masih perlu dijelaskan. Misalnya fakta yang terdapat dalam sajak Karangan Bungapada larik yang berbunyi bagi kakak yang ditembak mati siang tadi harus dicari penjelasannya. Syukur kalau mereka masih ingat peristiwa terbunuhnya Pahlawan Ampera itu dalam perspektif sejarah.

 

Pelacakan pendahuluan juga penting untuk menemukan cara penyajian pembelajaran

Apresiasi sastra yang tepat dengan mempertimbangkan hal-hal berikut: siapakah yang jadi sasaran penyair/pengarang itu apakah pribadi tertentu atau manusia pada umumnya. Misalnya siapa yang dituju oleh sajak Perempuan-perempuan Perkasa karya Hartoyo Andangjaya tadi, berbeda dengan sasaran sajak Teratai Sanusi Pane.

Pertimbangan lainnya antara lain dari segi bagaimana pengarang menyajikan karyanya. Apakah pengarang dalam hal ini penyair menggunakan gaya monolog pada sajak Doakarya Chairil Anwar. Tuhan dalam sajak itu berfungsi sebagai apa? Hal lain yang harus diperhatikan yaitu apakah karya sastra itu bermakna tersirat atau tersurat. Walaupun karya sastra umumnya memiliki makna tersirat, tetapi ada pula karya-karya tertentu yang memiliki makna tersurat, misalnya sajak Menyesal karya Ali Hasjim. Berbeda dengan sajak Menuju ke Laut karya Sutan Takdir Alisjahbana yang memiliki arti tersirat.

 

Tahap kedua dalam pembelajaran apresiasi sastra menuru Moody adalah

penentuan sikap praktis. Yang dimaksud dengan penentuan sikap praktis di sini adalah bagaimana guru menentukan hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan penyajian pembelajaran apresiasi sastra. Pada tahap ini guru harus menentukan karya sastra mana yang akan disajikan. Karya sastra yang akan disajikan hendaknya tidak terlalu panjang. Usahakan karya sastra yang bisa disajikan dalam satu pertemuan. Hal lain yang harus ditentukan pada tahap ini adalah informasi apa yang perlu diberikan kepada siswa agar mempermudah siswa memahami karya sastra. Informasi/ keterangan awal itu hendaknya jelas dan seperlunya. Pada tahap ini guru juga harus menentukan kapan karya sastra dibagikan.

 

Tahap ketiga adalah

introduksi atau pengantar. Pada tahap ini guru memberikan, informasi awal berupa uraian singkat mengenai karya yang disajikan, termasuk juga informasi mengenai pengarangnya dan karya pengarangnya yang lain. Harap jangan Anda lupakan situasi dan kondisi saat suatu karya sastra diciptakan. Misalnya, ketika kita akan menyajikan cerita pendek Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, kita berbicara tentang masyarakat Minangkabau secara singkat, begitu pula tentang A.A. Navis dan karya-karyanya yang lain.

Tahap keempat adalah tahap penyajian. Pada tahap ini kita sebagai guru harus meyakini terlebih dahulu hakikat sastra yang bersifat lisan, khususnya puisi. Pada tahap ini, khususnya puisi lebih baik dibacakan dulu secara nyaring. Pembaca puisi tidak mesti selalu guru, tetapi bisa saja para siswa sendiri. Walaupun demikian, suara guru sebenarnya lebih mereka sukai. Hanya, kelemahannya mereka cenderung meniru apa yang dilakukan gurunya. Lagi pula, tidak setiap guru sastra mampu membacakan puisi dengan baik. Jadi, yang jadi model pembacaan puisi tidak mesti selalu guru. Pada kesempatan ada siswa yang sangat bagus, siswalah yang membacakan puisi. Justru yang harus didorong adalah agar seluas mungkin para siswa meyakini mereka bisa membaca puisi. Akan lebih baik bila misalnya ada model pembacaan puisi dari para penyair yang direkam. Model ini diperlukan hanya semacam pola, bukan yang harus diikuti secara persis dengan cara menirunya.

Alangkah baiknya bila suara yang membacakan puisi itu direkam pada media audio. Suara yang direkam bisa suara guru, siswa sendiri, atau penyair. Dengan demikian, model pembacaan itu dapat diulang-ulang bila sewaktu-waktu diperlukan. Bila suara guru sendiri yang diulang para siswa akan meyakini bahwa gurunya sebagai model profesional sekaligus akan membuat guru makin berwibawa di mata siswa. Akan tetapi, bila hal ini tidak mampu guru lakukan, guru bisa minta tolong kepada para siswa sendiri atau kepada siapa saja yang pembacaannya layak dijadikan model.

 

Bagaimana dengan cerita pendek (juga novel)?

Cerita pendek atau. novel tidak mesti selalu dibacakan seperti puisi. Untuk cerita pendek, mungkin saja satu cerita pendek itu dibacakan secara bergiliran di depan kelas setelah mereka membaca dalam hati masing-masing. Ini diperlukan untuk memberikan efek lebih pada penikmatan. seperti juga pada puisi, sekaligus ini merupakan bagian dari pelajaran membaca ekspresif dan pembelajaran apresiasi sastra. Dengan demikian, pembacaan karya sastra sekaligus meraih dua pulau, pulau pembelajaran apresiasi sastra dan pulau pelajaran membaca ekspresif. Hanya, guru juga sesekali boleh turut membacakan satu bagian dari cerita pendek. Jangan terlalu panjang. Biarkan bagian mereka yang lebih panjang.

Untuk novel, bacalah satu atau dua fragmen dari suatu novel yang dianggap akan menarik minat siswa. Misalnya, jika mereka sedang membaca novel Jalan Tak Ada Ujung karya Muchtar Lubis, bacakan beberapa bagian mengenai keragu-raguan guru Isa sehingga menyebabkannya mengalami impotensi. Bacakan pula bagian yang menggambarkan bagaimana keragu-raguan bahkan ketakutan yang selama ini mencekam guru Isa lenyap seketika.

Sebagai contoh kepada mereka diberikan sajak yang berjudul Pahlawan Tak Dikenal, karya Toto Sudarto Bachtiar. Pertama-tama sajak ini bisa saja dibacakan oleh salah seorang murid atau guru atau model pembaca (berupa rekaman). Sajak ini pada kedua kalinya bisa atau bahkan ketiga atau keempat kalinya dibaca secara bersama-sama oleh dua atau tiga orang Siswa dengan cara sebagai berikut.

Siswa 1: ……. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Siswa 2: ……. Sebuah lubang peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

.

Siswa 3: ……. Dia tidak ingat bilamana dia datang

Kedua lengannya memeluk senapang

Siswa 1, 2, 3: … Dia tidak tahu untuk siapa dia datang

… Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

.

Siswa 1: ……. wajah sunyi setengah tengadah

Menangkap sepi padang senja

Siswa 2: ……. Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu

Dia masih sangat muda

.

Siswa 3: ……. Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun

Orang-orang ingin kembali memandangnya

Siswa 1, 2, 3: .. Sambil merangkai karangan bunga

..Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

.

Siswa 1, 2, 3: .. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

  Tetapi bukan tidur, sayang

  Sebuah peluru bundar di dadanya

  Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

.

Formasi pembacaannya bisa divariasikan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Yang terpenting dari kegiatan ini siswa beroleh efek yang lain yang membuat mereka lebih menikmati puisi bila dibandingkan dengan mereka membaca secara perseorangan.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/