Logika Siswa Rendah, Nilai Unas SMP Turun

Logika Siswa Rendah, Nilai Unas SMP Turun

Logika Siswa Rendah, Nilai Unas SMP Turun

Logika Siswa Rendah, Nilai Unas SMP Turun
Logika Siswa Rendah, Nilai Unas SMP Turun

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya merilis hasil ujian nasional (unas) SMP sederajat kemarin (28/5). Seperti disebutkan sebelumnya, terjadi penurunan nasional. Di antara empat mata pelajaran yang diujikan, mata pelajaran eksakta mengalami penurunan paling drastis.

Penurunan paling besar ada di mata pelajaran matematika sebanyak 6,99 poin. Kemudian disusul IPA (turun 4,75 poin), bahasa Inggris (turun 0,61 poin), dan bahasa Indonesia (turun 0,32 poin).

“Saya lebih sreg menyebutnya (penurunan nilai unas, Red) terkoreksi,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Totok Suprayitno kemarin.
Logika Siswa Rendah, Nilai Unas SMP Turun
Siswa ketika mengikuti UNBK 2018 (Arifin/Radar Sampit/Jawa Pos Group)

Nilai unas SMP tahun ini, sebut Totok, turun karena pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) semakin banyak. Dengan UNBK, kejujuran meningkat yang berimbas pada terkoreksinya nilai.

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji tidak sependapat dengan alasan meningkatnya kejujuran sebagai penyebab turunnya nilai. “Artinya, selama 70-an tahun Indonesia merdeka, proses pendidikan di sekolah menggiring anak-anak tidak jujur,” kritiknya.

Indra menilai jebloknya nilai matematika dan IPA sebagai cermin

bahwa pendidikan kita masih tertinggal. Itu didasarkan pada pengukuran Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan pada 72 negara anggota OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Pada 2012 Indonesia berada di urutan ke-71 dari 72 negara. Pada 2015 posisinya sudah membaik, naik ke peringkat ke-64.

Dalam pengukuran PISA, ada tiga penilaian yang jadi acuan, yakni matematika, membaca, dan ilmu pengetahuan. Untuk matematika, skor PISA Indonesia adalah 386 poin. Jauh sekali jika dibandingkan dengan skor matematika Singapura, sebagai yang paling tinggi, dengan nilai 564 poin. Kemudian, skor ilmu pengetahuan Indonesia tercatat 403 poin dan untuk membaca tercatat 397 poin. Perbandingannya adalah skor ilmu pengetahuan Singapura 556 poin dan skor membacanya 535 poin.

Nah, jebloknya nilai matematika dan IPA pada unas SMP tahun ini mengonfirmasi hal itu. “Sekarang sudah lebih jujur, tetapi nilainya masih rendah, berarti anak-anak kita tidak cerdas.”

Menurut Indra, salah satu penyebab rendahnya nilai matematika atau penilaian PISA secara umum adalah metode pendidikan yang tidak sesuai. Dia mengatakan, saat ini pembelajaran yang diajarkan di sekolah hanya berada di tingkat rendah, yakni memahami dan menghafal saja.

Indra menjelaskan, kemampuan kognitif itu terbagi atas enam tingkat. Mulai yang paling rendah menghafal, lalu memahami, menerapkan, menganalisis, menilai, dan yang tertinggi adalah mencipta atau creating. Nah, dari tingkat kognitif itu, terang Indra, pembelajaran masih berada di level menghafal dan memahami.

Ketika tahun ini soal unas matematika disisipi soal ujian HOTS,

siswa menjadi kelabakan. Sebab, soal ujian HOTS itu menuntut siswa tidak sekadar hafal dan memahami rumus matematika, tapi juga memiliki kemampuan tingkat tinggi. “Yakni berpikir kritis, kreatif, serta mampu berinovasi,” ujarnya. Untuk bisa memiliki kemampuan tingkat tinggi tersebut, guru harus membangun kemampuan logika bernalar siswa dalam pembelajaran sehari-hari di kelas.

Sependapat dengan Indra, guru matematika di SMP Nasima Semarang Abdul Karim menyatakan bahwa soal HOTS menjadi momok. Soal-soal HOTS itu tidak bisa langsung dikerjakan dengan rumus yang sudah dihafal siswa. Tetapi harus dengan penalaran terlebih dahulu, kemudian baru menentukan rumus yang akan digunakan.

Nah, persoalannya, selama ini anak-anak di sekolah maupun

di bimbingan belajar (bimbel), khususnya menjelang unas, berlatih soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Padahal, pada soal-soal ujian tahun sebelumnya, masih belum ada jenis soal HOTS. “Hampir semua soal yang intinya hafal rumus, angka tinggal masuk-masukin, kemudian keluar jawabannya,” ungkap dia kemarin.

Karim menambahkan, munculnya soal HOTS yang tidak hanya menuntut hafalan rumus dan angka itu membuat guru dan siswa kaget. Dia juga mengatakan, di buku pegangan guru sehari-hari pun masih kurang tersedia soal-soal kategori HOTS.

Namun, Karim optimistis tahun depan nilai matematika bisa naik. Sebab, guru maupun siswa sudah mendapatkan contoh-contoh soal HOTS untuk dipelajari. “Tahun ini menjadi pelajaran. Sebentar lagi pasti banyak beredar buku-buku persiapan unas yang menyiapkan soal HOTS,” kata ketua bidang peningkatan guru Ikatan Guru Indonesia (IGI) itu.

 

Sumber :

https://icanhasmotivation.com/kata-penghubung/