Mahasiswa ITS Ciptakan Membran Pengolah Limbah CO2 Industri Kilang Minyak

Mahasiswa ITS Ciptakan Membran Pengolah Limbah CO2 Industri Kilang Minyak

Mahasiswa ITS Ciptakan Membran Pengolah Limbah CO2 Industri Kilang Minyak

Mahasiswa ITS Ciptakan Membran Pengolah Limbah CO2 Industri Kilang Minyak
Mahasiswa ITS Ciptakan Membran Pengolah Limbah CO2 Industri Kilang Minyak

Di Indonesia belum ada langkah spesifik dalam mengolah emisi gas Karbondioksida

(CO2) hasil industri kilang minyak. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mencoba mengembangkan material aplikasi membran MMM-NKTZ untuk pemisahan gas CO2.

Penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mulai mengolah limbah CO2 sebelum dibuang ke udara. Tim mahasiswa tersebut adalah Rafika Amalia Annur, Safiratul Firdaus, dan Retia Faizatun N yang berasal dari Departemen Kimia, Fakultas Sains ITS. Rafika selaku ketua tim menjelaskan, selama ini limbah gas CO2 kerap kali langsung dibuang begitu saja tanpa diolah terlebih dahulu.

Hal ini diyakini Rafika dan tim akan menyebabkan terjadinya pemanasan global

. Pada tahun 2016 saja, menurut Rafika, emisi gas CO2 sudah mencapai 49.3 giga ton. “Yang mana itu setara dengan 72 persen dari total emisi gas pada tahun tersebut,” ungkap mahasiswa angkatan 2015 ini dengan nada cemas.

Rafika menuturkan, yang diteliti oleh timnya adalah pengembangan material aplikasi membran untuk pemisahan gas CO2. Ia menjelaskan, selama ini material umum untuk membran adalah zat karbon dan zeolit. Karbon digunakan karena luas permukaannya besar dan zeolit digunakan lantaran memiliki tingkat penyerapan CO2 yang tinggi. “Hingga akhirnya banyak peneliti yang mulai mengembangkan gabungan kedua material ini menjadi karbon tertemplat zeolit (KTZ),” jelas mahasiswi berhijab ini.

Tujuan pengembangan KTZ adalah untuk mendapatkan material yang mampu menyerap CO2

dalam jumlah banyak dan luas permukaan yang besar seperti material yang digabungkan tadi. Rafika dan tim menggunakan material KTZ yang telah diberikan doping nitrogen (menjadi N-KTZ) sebagai pengisi membran pemisahan karbondioksida. “Dengan adanya gugus nitrogen yang bersifat basa, kami harap mampu mengikat gas CO2 yang cenderung sifatnya asam,” terang gadis berkacamata ini.

 

Sumber :

https://education.microsoft.com/Story/CommunityTopic?token=HORwW