Posted in: Otomotif

Pembangunan Terintegrasi (Pembangunan Total)

Pembangunan Terintegrasi (Pembangunan Total)

            Suatu konsep, yaitu rangkaian gagasan yang mempunyai kemungkinan dan kesempatan untuk dilaksanakan, harus bersifat realistis. Karena itu, konsep harus bertolak dari masalah-masalah yang dihadapi pada dewasa ini sebagai pangkal-tolak dan juga sebagai suatu rangkaian masalah yang harus dipecahkan (Prof. Sarbini, 2004:119).

            Sebelumnya, perlu diadakan ketegasan dan penjelasan dalam pikiran serta pengertian kita mengenai ideologi maupun cita-cita. Berpedoman  kepada ideologi dan UUD, maka keadaan dan masalah-masalah yang ada di dalam masyarakat sangat penting mendapat perhatian, secara khusus adalah  keterbelakangan, kemiskinan, ketidakadilan, ketidakmerataan, pengangguran yang luas, kekurangan gizi, kekurangan kesehatan, serta suasana yang serba tidak bebas. Semua itu seolah-olah bertopang secara kuat pada keadaan struktur masyarakat kita dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik yang memperkokoh serta melanggengkan keadaan yang tidak memuaskan ini. Pada akhirnya, semua itu terwujud dalam keseluruhan ekspresi kebudayaan kita (Prof. Sarbini, 2004:120).

            Selanjutnya perlu dipertanyakan, sudah jelaskah cita-cita yang kita tuju? Cita-cita kita adalah masyarakat adil dan makmur. Adakah kejelasan pada kita apa yang dimaksud dengan massyarakat yang adil dan makmur? Disini, yang kita perlukan ialah kejelasan dan ketegasan, sehingga dapat disusun  rangkaian sasaran yang dapat dituju. Dengan demikian, cita-cita masyarakat adil dan makmur (bagaimanapun juga penilaian masing-masing tentang apa yang diartikan sebagai makmur) dapatlah dijadikan sebagai sasaran akhir (Prof. Sarbini, 2004:121).

            Secara umum, pengertian masyarakat adil dan makmur tidak terlalu kabur jika kita artikan sebagai masyarakat yang sejahtera. Pertama-tama, dapat dikatakan bahwa orang merasa sejahtera kalau ia bebas dari kemiskinan dan ketakutan akan hari esok bisa makan atau tidak. Akan tetapi, hal ini tidak mencukupi, karena orang tidak akan merasa sejahtera kalau ia menganggap ada ketidakadilan terhadap dirinya dan sesamanya didalam masyarakat. Kesejahteraan juga berhubungan dengan hari kemudian. Bahkan, ia dapat mengharapkan hari esok akan lebih baik daripada hari ini (Prof. Sarbini, 2004:122).

            Dengan demikian, tingkat kesejahteraan akan menjadi relatif penting dibanding dengan materiil. Memang, keadilan materiil yang minimal dapat memberi pelayanan terhadap kebutuhan-kebutuhan pokok mutlak diperlukan. Akan tetapi, sesudah tingkat itu tercapai menjadi lebih sekunder dan relatif. Keadilan materiil hanya akan mempunyai arti dalam kombinasi dengan keadaan dan perasaan-perasaan yang lain, seperti pemerataan, keadilan, dan kebebasan (Prof. Sarbini, 2004:122).

            Pandangan kita tentang perorangan maupun seluruh masyarakat Indonesia yang sejahtera didasarkan atas suatu pandangan yang realistis. Setiap orang Indonesia akan dihadapkan pada pilihan-pilihan dan nilai-nilai yang lain, yang tidak kurang tinggi serta benarnya dibandingkan dengan nilai-nilai yang bersifat materialistis. Nilai-nilai tersebut antara lain rasa sejahtera, rasa adil, rasa ikut serta aktif dalam seluruh kehidupan masyarakat, rasa adanya kebebasan, rasa adanya kebersamaan dan kemampuan untuk menentukan sendiri perbaikan nasib dirinya serta seluruh keluarganya, ditambah dengan keadaan dan suasana umum dalam masyarakat yang lebih mementingkan nilai-nilai hidup yang lain daripada sekedar materi (Prof. Sarbini, 2004:123).

            Dengan begitu, seluruh komponen yang terdapat pada manusia harus dapat dibangun. Menurut Prof. Sarbini, sesungguhnya yang perlu dibangun adalah manusianya, yaitu dalam bentuk membangun kesadaran orang akan kemampuannya sendiri, sehingga lahirlah aspirasi yang mendorong keseluruhan masyarakat ke arah kemajuan. Inilah yang dapat disebut pembangunan total atau pembangunan terintegrasi, melihat keseluruh kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan tersebut dibarengi dengan perubahan struktur. Jadi Bukan hanya bersifat materiil (ekonomi) saja yang harus dibangun, melainkan kondisi sosial dan politik masyarakat juga harus dibangun.

            Selanjutnya kita akan membahas lebih jauh dan lebih praktis tentunya lagi tentang, apa yang dimaksud dengan pembangunan Sosial, Politik dan Ekonomi,  bagaimana bentuk dan kontribusinya?.

Sumber :

https://icbbumiputera.co.id/pengaturan-keamanan-twitter-bantu-kurangi-akun-kekerasan/