Pembentukan Karakter Siswa

Pembentukan Karakter Siswa

Pembentukan Karakter Siswa

 

Pembentukan Karakter Siswa
Pembentukan Karakter Siswa

Karakter seseorang anak dapat dibentuk

Setelah mengetahui kepribadian anak yang bersangkutan. Kepribadian anak dapat diketahui melalui sifat yang tampak pada dirinya baik kelebihan atau kelemahan. Kepribadian satu pribadi dengan pribadi lain sangat berbeda, karena begitu uniknya tersebut sebaiknya Anda mengenalnya lebih dahulu dengan mengerti dan memahaminya (Tridhonanto, 2012: 15).

Pada saat manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahan dengan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang dinamakan dengan karakter. Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Proses pembentukan masih memerlukan bantuan dari pihak luar yang dianggap dewasa seperti orang tua, pendidik, dan lingkungan keluarga (Tridhonanto, 2012: 20).

 

Usia 3 hingga 5 tahun sebagai pembentukan karakter bagi anak.

Dengan peran keluarga lebih utama, dalam membimbing dengan wujudnya berupa perilaku, watak, hingga karakter. Pengembangan nilai moral juga tidak kalah pentingnya karena sebagai dasar membangun karakter anak dengan tentunya tetap memperhatikan sifat anak itu sendiri. Anak paling mudah mempelajari sesuatu jika melihat dan melakukan sendiri. Hal ini dikarenakan anak masih belajar menggunakan organ sensorinya, daripada perasaan yang umum digunakan orang dewasa (Tridhonanto, 2012: 26).

 

Menurut Said Agil Husin Al-Munawar (2003: 136)

(dalam Salahudin 2013: 276-277), harus dibedakan antara perilaku manusia yang bersumber dari karakternya dengan perilaku yang disebabkan temperamen yang dimilikinya. Temperamen merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai rangsangan yang datang dari lingkungan dan dari dalam dirinya sendiri. Temperamen ini berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang. Oleh karena itu, sulit untuk berubah. Temperamen bersifat netral terhadap penilaian baik ataupun buruk.

Adapun karakter berkaitan erat dengan penilaian baik-buruknya tingkah laku seseorang, yang disadari oleh bermacam-macam tolak ukur yang dianut masyarakatnya. Karakter terbentuk melalui perjalanan hidup seseorang. Oleh karena itu, ia dapat berubah, dapat dibangun sejalan dengan cara ia menilai pengalaman itu.

 

Jika temperamen tidak mengandung implikasi etis

Karakter justru selalu menjadi objek penilaian etis. Seseorang boleh jadi memiliki temperamen yang berbeda dengan karakternya. Ada orang yang temperamennya buruk (negatif), tetapi karakternya baik. Sebaliknya, ada orang yang karakternya buruk, tetapi temperamennya baik. Seseorang yang karakternya buruk akan semakin buruk jika ia juga memiliki temperamen buruk. Adapun orang yang berkarakter baik, tetapi temperamennya buruk, biasanya segera menyesali dan merasa malu atas tingkah laku buruknya, meskipun hal tersebut bisa terulang kembali.

Dalam proses perkembangan dan pembentukannya, karakter seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan (nurture) dan faktor bawaan (nature). Secara psikologis perilaku berkarakter merupakan perwujudan dari potensi Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotinet (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Adverse Quotinet (AQ) yang dimiliki oleh seseorang.

Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosio-kultural pada akhirnya dapat dikelompokkan dalam empat kategori, yakni: (1) olah hati (spiritual and emotional development); (2) olah pikir (intellectual development); (3) olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development) dan (4) olah rasa dan karsa (affective and creativity development). Keempat proses psikososial ini secara holistik dan koheren saling terkait dan saling melengkapi dalam rangka pembentukan karakter dan perwujudan nilai-nilai luhur dalam diri seseorang (Kemdiknas, 2010: 9-10, dalam Wibowo, 2013: 11).

 

Dalam pandangan Lickona (1992) (dalam Adisusilo, 2013: 61-62)

Pendidikan nilai/moral yang menghasilkan karakter, ada tiga komponen karakter yang baik (components of good character), yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang mental, dan moral action atau perbuatan moral. Ketiga komponen itu menunjuk pada tahap pemahaman sampai pelaksanaan nilai/moral dalam kehidupan sehari-hari. Ketiganya tidak serta merta terjadi dalam diri seseorang, tetapi bersifat prosesual, artinya tahapan ketiga hanya mungkin terjadi setelah tercapai tahapan kedua, dan tahapan kedua hanya tercapai setelah tahapan pertama.

Dalam banyak kasus ketiga tahapan tidak terjadi secara utuh. Mungkin sekali ada orang hanya sampai moral knowing dan berhenti sebatas memahami. Orang lain sampai pada tahap moral feeling, dan yang lain mengalami perkembangan dari moral knowing sampai moral action. Moral knowing adalah hal yang penting untuk diajarkan, terdiri dari enam hal, yaitu moral awareness (kesadaran moral), knowing moral values (mengetahui nilai-nilai moral), perspective taking, moral reasoning, decision making dan self knowledge.

Langkah teramat penting adalah adanya pendidikan nilai/moral atau karakter sampai pada moral action. Moral action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter, yaitu kompetensi (competence), keinginan (will) dan kebiasaan (habit).

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter seseorang anak dapat dilakukan setelah mengetahui kepribadian yang bersangkutan. Proses pembentukan karakter masih memerlukan bantuan dari pihak luar yang dianggap dewasa. Seperti halnya orang tua, pendidik, dan lingkungan keluarga. Peran dari keluarga lebih utama, dalam membimbing dengan wujudnya berupa perilaku, watak, hingga karakter. Selain itu karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Pengembangan nilai moral juga tidak kalah pentingnya karena sebagai dasar membangun karakter anak.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/