Pengertian proteksi

Pengertian proteksi

 Pengertian proteksi
Pengertian proteksi

Proteksi adalah upaya pemerintah mengadakan perlindungan pada industri-industri domestik terhadap masuknya barang impor dalam jangaka waktu tertentu. Proteksi bertujuan melindungi, membesarkan, atau mengecilkan kelangsungan industri dalam negeri yang berlaku dalam perdagangan umum. Tindakan tersebut merupakan aktivitas yang dapat dibenarkan, bahwa tidak masuk akal untuk mengimpor barang yang dapat dibuat di dalam negeri.

Sejarah Proteksi

Dalam bukunya, The Rise and Fall of The Great Powers (1987), Prof. Paul Kennedy membicarakan tentang sejarah kekuatan-kekuatan perkonomian. Menurut Kennedy, hingga abad XV, dunia hanya mengenal kekuatan regional yang tumbuh secara alami di berbagai penjuru bumi sejak zaman kuno.
Kekuatan regional itu tidak pernah mencapai tahap global, seperti yang akan terjadi setelah renaissance dan reformasi Eropa. Kerajaan-kerajaan kuno, seperti Sumeria, Asiria, Babilonia, Mesir, dan Persia hanya bersifat regional di sekitar pusat kerjaan di Timur-Tengah. Bahkan, yang disebut imperium Mogul di India dan kekaisaran Cina, serta imperium Romawi dan Yunani juga mempunyai batasan kekuasaan serta wilayah pengaruh yang terbatas. Imperium Genghis Khan yang membentang dari Hongaria sampai Cina memang merupakan imperium terbesar abad pramodern.

Kennedy menguraikan bahwa setelah Columbus mendarat di benua Amerika dan Spanyol menjarah harta karun peninggalan imperium India, Inca, Maya, dan Aztec, maka Spanyol menjadi negara terkaya secara finansial. Masuknya barang-barang dari Amerika Selatan itu menjadikan aktivitas produksi dalam negeri lamban dan tidak produktif, bahkan menjadikan inflasi dan kemalasan serta kemanjaan rakyat Spanyol.

Dalam kasus Indonesia, hadirnya Belanda berhasil memaksa traktat-traktat perjanjian dagang sepihak dengan penguasa lokal nusantara. Secara popular dikaakan Belanda menjajah Indonesia dan dari penguasaan itu kemudian Belanda menjadi negara paling kaya secara ekonomi/finansial. Pada tahun 1700, GDP per kapita Belanda mncapai 440 dolar AS atau 50 % lebih tinggi dari Inggris, 288 dolar As. Belanda menduduki rangking pucak negara terkaya karena memegang oktroi monopoli perdagangan luar negeri Indonesia melalui ‘BUMN’ VOC. Pada kurun waktu ini, mazhab merkantilisme amat mendominasi pemikiran dan sistem ekonomi Eropa.

Pada perempat terakhir abad XVIII, Inggris mulai memasuki era Revolusi Industri, yang akan mengorbitkan negara ini menjadi satu-satunya di dunia yang mengalahkan Belanda yang masih mengandalkan berdagang komoditi gaya lama. Istilah produktivitas sesungguhnya lahir di Perancis tahun 1776, walaupun di Inggris ditemukannya mesin pintal oleh Hargreave (1746) dan Arkwright (1768), mesin uap ditemukan oleh James Watt ketika George Washington memimpin revolusi kemerdekaan AS, dan Adam Smith (1723-1790) menulis buku klasiknya The Wealth of Nations, sebagai moment yang dianggap awalnya kemajuan ekonomi dunia modern. Dengan industrialisasi, Inggris melesat meninggalkan pesaing Eropa lainnya dan pada tahun 1785 Belanda digusur dari rangking pucak juara produktivitas dunia.

Para politisi dan teoritisi Eropa daratan tentu tidak rela dijadikan sekedar pasar pelemparan barang produksi Inggris. Hal ini kemudian melahirkan pergolakan pemikiran, maka lahirlah doktrin Neomerkantilisme dan Historisme, yang dipelopori oleh Friedrich List (1789-1846) dari Jerman. Negara yang melakukan industrialisasi belakangan (New comers & Latecomers), dengan ini merasa perlu memasang tembok tarif bea masuk untuk melindungi industri mereka yang masih balita. Kemudian lahirlah teori infant industry protection dengan subsidi, proteksi tarif, dan tata niaga yang melindungi industri ‘muda’ di negara pendatang baru. Mereka perlu melakukan proteksi terhadap yang sudah memiliki industri yang lebih maju. Aliran Historisme ini sangat populer dan dianut oleh semua negara yang menyusul industrialisasi setelah Inggris, termasuk Perancis, AS, dan Jepang.
Proteksionisme dan konflik dagang antara pelbagai negara Eropa Barat, AS, dan Jepang itu akan memicu dua perang dunia pada pengaruh pertama abad XX. Setelah Perang Dunia I, posisi Inggris sudah mulai terkejar oleh AS dan akan dikukuhkan setelah Perang Dunia II sebagai super power politik, ekonomi, dan militer.

Tesis Prof. Kennedy mencoba mengaitkan kemunduran pelbagai imperium karena overstretch atau ambisi ekspansionis yang mentedot dana dan kemampuan ekonomisnya, maka AS juga mengalami kemunduran yang sama. Dua perang dunia serta Perang Dingin membendung komunisme dengan Perang Korea dan Perang Vietnam telah menyedot sumber daya dan dana AS. Sementara, Jepang dan Jerman bangkit kembali dari kehancuran fisik Perang Dunia II dan menjadi kekuatan ekonomi kedua dan ketiga setelah AS.

Menghadapi perubahan radikal situasi global, AS tergoda memperlihatkan kecenderungan mengandalkan posisinya sebagai negara super power untuk menekan negara yang secara ekonomisnya menjadi saingan, seperti yang terjadi dengan Jepang. Tuntuan AS terhadap Jepang pada negosiasi bilateral, mencerminkan kecapekan AS untuk bersaing secara bebas sepenuhnya dan AS mengancam untuk mengenakan saksi proteksi dan kuota bila Jepang tidak menerima daftar permintaan AS supaya defisit perdagangan dikurangi secara konkret dalam jangka waktu singkat.

Sumber : https://jalantikus.app/