Radin Inten II, Pahlawan dari Lampung Selatan

Radin Inten II, Pahlawan dari Lampung Selatan

Radin Inten II, Pahlawan dari Lampung Selatan

Radin Inten II, Pahlawan dari Lampung Selatan
Radin Inten II, Pahlawan dari Lampung Selatan

Jika berbicara tentang perjuangan melawan penjajah tempo silam, maka kita tak bisa lepas dari perjuangan pribumi yang melawan penjajah di berbagai daerah Nusantara. Tak terkecuali Radin Inten II, Pahlawan Nasional yang memimpin perlawanan di daerah Lampung.

Radin Inten II merupakan putra dari Radin Inten Kesuma II dan cucu dari Radin Inten I. Beliau lahir di desa Kuripan, yang sekarang dikenal sebagai Lampung pada tahun 1834. Beliau merupakan keturunan darah biru yang bersaudara dengan kerajaan Banten. Radin Inten termasuk seorang penentang Belanda yang tidak menghendaki adanya kolonialisme di bumi pertiwi. Beliau dikenal sebagai pemimpin sekaligus panglima perang yang tak hanya memiliki fisik yang kuat, namun juga pemikiran yang cemerlang.

Radin Inten II merupakan putra tunggal dari Radin Imba II yang dilahirkan dan dibesarkan oleh Ibunya, Ratu Mas dan keluarganya ditengah hutan dan dengan penuh kerahasiaan. Sedangkan Radin Imba II adalah putra Radin Inten I.

Berdasarkan silsilah, Radin Inten I adalah keturunan dari dari Ratu Darah Putih, Minak Gejala Ratu atau Muhammad Aji Saka putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di Keratuan Pugung, Lampung Timur sekitar abad 15.

Pada tahun 1850, saat Radin Inten II berusia 15 tahun, Radin Inten II dinobatkan sebagai penerus Radin Imba II. Radin Inten II dipercaya meneruskan tahta kepemimpinan dengan dinobatkan sebagai Ratu (Raja) di Keratuan Darah Putih atau Negara Ratu. Penobatannya dilakukan oleh seorang ulama dari Banten bernama H. Wakhia, disaksikan oleh para pengikut dan rakyat Lampung.

Perjuangan Melawan Belanda

Disitat dari teraslampung.com, pada zaman itu Belanda menggap Radin Inten II sebagai pemuda yang jenius dan berani melakukan perlawanan terhadap Belanda.

pada tahun 1851 Belanda mengirimkan 400 pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tuch. Pasukan Belanda menyerang Benteng Merambung. Radin Inten II dan pasukannya menghadapi serangan tersebut dengan gagah berani. Alhasil, Belanda kalah total.

Seusai menelan kekalahan, dua tahun kemudian (1853), Belanda kembali mengajukan perdamaian. Isi perdamaian itu adalah: Radin Inten II diminta menghentikan penyerangan. Usulan perdamaian itu diterima Radin Inten II dan perang pun dihentikan.

Namun suasana tenang itu hanya berlangsung selama dua tahun yakni tahun 1855.Sebab, pada 1856 Radin Inten II kembali menyerang Belanda. Karena kewalahan menghadapi serangan pasukan Radin Inten II, Belanda pun meminta bala bantuan tentara dari Batavia. Pasukan Belanda yang datang dari Batavia itu di bawah pimpinan Kolonel Welleson dibantu oleh Mayor Nauta, Mayor Van Costade,dan Mayor AWP Weitzel.

Tidak tanggung-tanggung, pasukan Belanda dari Batavia diangkut dengan sembilan kapal perang. Itu masih ditambah tiga kapal pengangkut peralatan, serta puluhan perahu mayung dan hujung yang mengangkut 1.000 serdadu Belanda, 350 perwira, ditambah pasukan Gurka dari Afrika, 12 meriam besar dan 30 satuan zeni. Kapal-kapal tersebut melakukan pendaratan di Pulau Sikepal yang berada di daerah Teluk, Tanjung Tua.

Selanjutnya, pada tanggal 13 Agustus 1896, Belanda melakukan penyerbuan di pagi hari dari Pulau Sikepal.

Pada tanggal 16 agustus 1856, pasukan Belanda yang dipimpin Kolonel Welleson, bersiap melakukan penyerangan terhadap Radin Inten II dengan menyerang Benteng Bendulu melalui daerah Ujau dan Kenali dan Belanda berhasil menguasai Benteng tersebut.

Untuk melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, Radin Inten II melakukan perlawanan dengan cara bergerilnya menggunakan senjata yang tidak seimbang. Karena merasa terusik dengan pergerakan radin Inten II, Belanda berusaha mencari dan menangkap Radin Inten II di beberapa tempat persembunyiannya.

Berbagai cara dilakukan Belanda, agar dapat menangkap pemuda yang tangguh dan cerdas tersebut. Merasa kesulitan menangkap Radin Inten II, Belanda membabi buta melakukan cara-cara yang tidak pada tempatnya. Pasukan Belanda menangkap saudara dan orang-orang terdekat Radin Inten II, baik itu istri, lalu anak dan menantu serta saudara-saudara teman seperjuangannya.

Kelicikan Belanda

Karena merasa kesulitan, akhirnya Belanda melakukan tipu muslihatnya dengan memanfaatkan orang lampung

sendiri.Belanda berhasil membujuk Radin Ngerapat yang merupakan kelamanya (paman) dari Radin Inten II sendiri.

Radin Ngerapat merasa sakit hati karena pernah mendapat hukuman oleh Radin Inten II, sehingga mau menuruti dan melakukan perintah Belanda untuk menjebak Radin Inten II. Sementara Radin Inten II menegakkan hukum seadil-adilnya dan tidak pandang bulu, baik itu kepada siapapun yang berbuat salah harus dihukum sekalipun itu adalah saudara atau kerabatnya sendiri.

Selanjutnya, Radin Ngerapat mengundang Radin Inten II untuk diajak makan bersama. Saat itu Radin Inten II tidak menaruh curiga atau prasangka buruk sedikitpun atas ajakan Radin Ngerapat yang merupakan masih pamannya (kelama) tersebut, karena selama ini Radin ngerapat dipercaya oleh Radin Inten II sebagai Kepala Kampung di wilayah Tetaan Udik. Radin Inten II pun pergi memenuhi undangan makan tersebut, dengan ditemani saudara sepupunya bernama Iton Mas.

Radin Inten II diajak oleh Radin Ngerapat disebuah areal perkebunan antara Desa Tetaan

dengan Desa Gayam tepatnya di Lapai Khatu. Di tempat itulah, Radin Inten II menyantap nasi yang dicampur dengan potongan daging kerbau bule, ternyata nasi yang dimakan Radin Inten II itu, oleh Radin Ngerapat dimasak dengan dibubuhi racun tuba.

Pada saat itulah, lanjut Budiman, Radin Inten II merasa kesakitan setelah memakan nasi yang sudah bercampur racun tersebut. Pasukan Belanda langsung datang menyerangnya.

Meski dalam kondisi sakit akibat diracuni dengan pamannya, dengan kegagahan dan keberaniannya mengusir penjajah Belanda dari tanah Lampung, Radin Inten II memberikan perlawanan sengit terhadap Belanda meski tidak seimbang.

Radin Inten II dapat ditangkap setelah diberondong peluru oleh Belanda dan meninggal pada 5 Oktober 1858, hari ini 160 tahun lalu di usia yang terhitung masih muda, 22 tahun. Atas perjuangannya tersebut, berdasarkan Keppres No. 81/TK/1986 pada tanggal 23 Oktober 1986, Radin Inten II

 

Sumber :

https://jeffmatsuda.com/niat-mandi-wajib/