Sambut Hardiknas, KEIN Tawarkan Paradigma Baru Pendidikan Era Revolusi

Sambut Hardiknas, KEIN Tawarkan Paradigma Baru Pendidikan Era Revolusi

Sambut Hardiknas, KEIN Tawarkan Paradigma Baru Pendidikan Era Revolusi

Sambut Hardiknas, KEIN Tawarkan Paradigma Baru Pendidikan Era Revolusi
Sambut Hardiknas, KEIN Tawarkan Paradigma Baru Pendidikan Era Revolusi

Revolusi digital 4.0 sudah mulai berjalan. Tentu saja, semua aspek tidak bisa tinggal diam.

Begitu pun dengan aspek dunia pendidikan di Indonesia yang tak bisa tutup mata dan tetap menggunakan paradigma lama.

Ketua Kelompok Kerja Industri Kreatif Komite Ekonomi Industri Indonesia (KEIN) Irfan Wahid mengatakan, pendidikan di era digital harus fokus pada proses, pola pikir, pilihan profesi pasca-sekolah yang mulai bervariasi.

“Saat ini zaman sudah berubah. Semua sektor mengalami disrupsi. Pola pendidikan juga berubah. Dulu, pendidikannya konvensional. Sekarang menjadi lebih komunal karena sumber pengetahuan tak hanya dari guru dan satu arah,” kata pria yang akrab disapa Ipang Wahid itu dalam bincang santai seputar Hari Pendidikan Nasional di kantor KEIN, Jakarta Pusat, Kamis (2/5).

Paling tidak, lanjut Ipang, ada empat hal yang perlu diberi perhatian khusus oleh para pendidik

dan stakeholder. Pertama, interactive learning dalam pola pengajaran. Pasalnya, budaya pengajaran yang searah atau monolog sudah sangat ketinggalan zaman.

“Sumber pengetahuan sekarang bisa dari mana saja. Budaya ini akan membuat generasi baru ke depan terbiasa mempertahankan sikap dan sanggup berargumentasi. Juga terbiasa mencari dan menguji pengetahuan yang mereka dapatkan,” katanya.

Bahkan, menurut Ipang, siswa yang lahir dari cara belajar yang interaktif justru lebih memiliki imunitas terhadap hal-hal yang bersifat hoaks. Sebab, mereka tidak gampang percaya.

“Mereka kritis dan terbiasa untuk selalu mengujinya. Dulu, tak semua orang bisa mengakses sumber pengetahuan.

Sekarang, sumber itu bisa dari mana saja,” paparnya.

Karena itu, kata Ipang yang merupakan putra KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) itu, ketika sumber melimpah, maka kualitas konten yang termasuk di dalamnya ada akurasi, kredibilitas, dan reputasi akan sangat menentukan.

Kemudian yang kedua, lanjut Ipang, adalah menanamkan pola pikir kreatif sejak dini. Termasuk mengajarkan anak-anak bahwa mereka bisa menyelesaikan persoalan dengan banyak cara. Tentunya semua proses juga metode pemecahan masalah itu harus dihargai.

“Tujuannya, untuk merangsang terobosan-terobosan baru,” ujar Ipang yang merupakan sosok di balik sejumlah iklan politik Jokowi yang kerap viral.

Ketiga, kata Ipang, adalah berwirausaha sejak dini. Mindset wirausaha harus ditanamkan karena melatih anak-anak untuk mampu berpikir mandiri secara kreatif. Apalagi, di dunia digital, startup tumbuh sangat pesat. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia dari sektor kreatif pada 2018 saja sudah tembus Rp 1.000 triliun.

 

Baca Juga :