Posted in: Pendidikan

 Sejarah sebagai Kisah

 Sejarah sebagai Kisah

Huizinga, sejarawan Belanda, mengatakan bahwa sejarah adalah “suatu kisah yang telah berlaku”. Sejarah sebagaimana yang dikisahkan (histoire-recite) mecoba menangkap dan memahami sejarah sebagaimana terjadinya (histoire realite).

Sejarah merupakan kisah atau cerita tentang seorang pelaku sejarah,dapat merupakan riwayat hidup, atau pengalamannya dalam suatuperistiwa sejarah

Ada kemungkinan sejarah sebagai kisah bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kepentingan dan nilai yang diperjuangkan, kelompok sosial dimana dia berada, perbendaharaan pengetahuan dan kemampuan bahasa yang dimilikinya.

Contoh sejarah sebagai kisah:

Perlawanan Pattimura 1817; Perlawanan Kaum Paderi (1821-1838); Perlawanan Diponegoro (1825-1830); Perlawanan Aceh (1871-1904) dan sebagainya dapat berulang kali ditulis kembali (dikisahkan) oleh penulis sejarah (sejarawan) atau orang yang berminat pada sejarah, yang hasilnya berupa karya tulis, dapat berupa cerpen, buku atau dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya. Upacara peringatan Proklamasi 17 Agustus dapat terulang dimana saja, oleh siapa saja, misalnya di sekolah oleh warga sekolah .

Jadi, sejarah sebagai kisah, peristiwanya dapat berulang kali, karena kisah dari suatu peristiwa tersebut dapat ditulis oleh siapa saja dan kapan saja.

 Sejarah sebagai Kisah

  1. Sejarah sebagai Ilmu

Sejarah sebagai ilmu membedakan ilmu sejarah dengan filsafat yang bersifat abstrak dan spekulatif. Sejarah termasuk ilmu empiris. Sebagai ilmu, sejarah memiliki sejumlah masalah, bukti dan fakta, yang perlu pembuktian secara ilmiah, melalui serangkaian penelitian danhipotesa, dengan menggunakan metode penelitian tertentu.

Sejarah termasuk ilmu tersendiri karena memiliki persyaratan sebagai ilmu, yakni:

  1. Memiliki tujuan, yang membedakan dengan ilmu yang lain yang akan dibatasi oleh objek material atau sasaran yang jelas.
  2. Memiliki metode, metode sejarah meliputi pengumpulan, mengadakan penilaian sumber (kritik), penafsiran data dan penyajian dalam bentuk cerita sejarah (historiografi).
  3. Pemikiran yang rasional, ilmu hanya dapat dipahami dengan akal pikiran.
  4. Penyusunan yang sistematis, dimulai dari langkah yang pertama (pengumpulan sumber) sampai dengan yang terakhir (penulisan sejarah sebagai kisah).
  5. Kebenaran bersifat objektif, penulisannya harus berdasarkan fakta sejarah yang sesuai dengan kenyataan (objektif)

sumber :

https://41914110003.blog.mercubuana.ac.id/infinity-loop-apk/