Posted in: Umum

Sultan Akbar lahir di Umerkot, Sind, 23 November 1542

Biografi Sultan Akbar

Sultan Akbar lahir di Umerkot, Sind, 23 November 1542. Ia adalah keturunan Dinasti Timurid, putra dari sultan Humayun dan cucu dari sultan Mughal Zaheeruddin Muhammad Babur, penguasa yang mendirikan Dinasti Mughal di India. Ibunya bernama Hamida Banu Begum. Sultan Akbar merupakan sultan ketiga yang diberi gelar sultan Abdul Fath Jalaluddin Akbar Khan.[1] Ia menggantikan ayahnya Humayun.
Sultan Akbar memerintah 27 Januari 1556-25 Oktober 1605 (49 tahun, 275 hari) Sultan Akbar adalah raja Mughal paling kontroversial. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa kebangkitan dan kejayaan Mughal sebagai sebuah dinasti Islam yang besar di India. Ketika menerima tahta kerajaan ini Akbar baru berusia relatif sangat muda 14 tahun, sehingga seluruh urusan pemerintahan dipercayakan kepada Bairam Khan, seorang penganut Syi’ah. Sedangkan Bairam Khan menemani sultan Akbar mulai tahun 1556-1561 saja karena terjadi konflik diantara keduanya. Di awal masa pemerintahannya, Akbar menghadapi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang masih berkuasa di Punjab. Pemberontakan yang paling mengancam kekuasaan Akbar adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pasukan pemberontak berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan tersebut sehingga terjadilah peperangan dahsyat yang disebut Panipat II pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap, kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh. Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M. Setelah persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan militeristik.

C. Kemajuan yang di capai sultan akbar pada masa kepemimpinannya

Di masa kepemimpinan Sultan Akbar bisa dikatakan kepemimpinan yang paling sukses diantara raja raja yang pernah memimpin dinasti mughal. Selain Sultan Akbar mampu menghasilkan kebijakan kebijakan yang membuat dinasti mughal lebih baik, di masa kepimpinannya dinasti mughal mengalami kemajuan-kemajuan di beberapa aspek. Yaitu :

1. Bidang Politik dan Militer
Kemajuan politik yang berhasil dicapai adalah politik sulakhul (toleransi universal) yang kemudian melahirkan sistem Din-i-Ilahi dan Mansabdhari, sedangkan setiap wilayah dikepalai oleh sipah salar dan subdistrik yang dikepalai oleh faudjar. Sehingga mampu menaklukan daerah-daerah disekitarnya.
2. Bidang Ekonomi
Dalam hal ini perekonomian pemerintah mengatur masalah pertanian dengan wilayah terkecil disebut Deh dan beberapa Deh bergabung dalam Pargana (kawedanan). Masing-masing dipimpin oleh muqqadam yang menjadi perantara antara pemerintah dengan petani.

3. Bidang Seni dan Arsitektur
Karya seni dan arsitektur Mughal masih bisa dinikmati keindahannya sampai saat ini. Dengan arsitektur yang menggunakan ukiran dan marmer yang timbul beraneka warna. Ada bangunan masjid, istana, dan makam. Kemudian sastra pada masa sultan Akbar berkembang bahasa Urdu yang merupakan perpaduan dari segala macam bahasa yang ada di India. Di India banyak melahirkan sastrawan seperti Malik Muhammad Jayashi dengan karya Padmavat yang merupakan karya alegoris yang mengandung kebajikan jiwa manusia.

4. Bidang Agama
Sultan Akbar menerapkan konsep Din-i-Ilahi, karena kebijakannya ini sultan Akbar banyak mendapatkan kritikan. Konsep ini merupakan upaya agar dapat menyatukan beragam agama di India. Mungkin ini cerminan sifat dari Sultan Akbar sebagai seorang raja yang gandrung akan persatuan dalam hal agama sehingga toleransi sangat di junjung tinggi untuk misi mempersatukan beragam agama di india dan itu berhasil.

Mungkin semua kemajuan tersebut didasari oleh sikap dan pemikiran yang menimbulkan keinginan untuk menjadikan dinasti mughal lebih baik. Walaupun semua raja memiliki keinginan yang sama tapi cara yang dimiliki oleh Sultan Akbar lebih berhasil mungkin karena lebih mengedepankan persatuan antara beragam suku agama yang ada di india, contoh nya konsep din-i-llahi itu sendiri.

Sumber: https://pss-sleman.co.id/