Tingkat kemiskinan Singapore dan Filiphina
Posted in: Pendidikan

Tingkat kemiskinan Singapore dan Filiphina

Tingkat kemiskinan Singapore dan Filiphina

Tingkat kemiskinan Singapore dan Filiphina
Tingkat kemiskinan Singapore dan Filiphina

Singapura
Kemarin saya baru saja pulang dari Singapura. Tiap kali saya ke sana saya selalu berpikir, aduh kapan ya Indonesia bisa seperti ini? Singapura negaranya sangat maju, bersih dan teratur. Saya sampai bingung dengan sistim mereka.. kendaraan umum di sana biayanya sangat murah, tetapi layanannya luar biasa, kendaraannya nyaman, stasiun-stasiunnya bersih, petunjuk-petunjuknya jelas, dan kendaraan umumnya selalu tepat waktu.
Memang kita tidak bisa membandingkan negara kita ini dengan Singapura dengan begitu saja, karena Singapura luar biasa kecil, dan penduduknya sedikit, sedangkan di Indonesia negara yang besar, penduduknya sangat banyak, banyak sekali ras, suku, agama, bahasa, dan kita semua tinggal di banyak pulau-pulau berbeda, maka itulah yang membuat Indonesia negara yang sangat sulit untuk ditangani.
Tetapi ada beberapa faktor-faktor yang membuat Singapura menjadi negara maju. Penduduknya tertib, sangat taat kepada peraturan. Di sana, tempat umum milik bersama, mereka menghargai orang lain di tempat umum, mereka menghargai bangunan/infrastruktur yang ada. Pembuangan sampah sembarangan jarang ditemukan, tidak banyak vandalisme. Di sana, hukum sangatlah ketat. Koruptor diberi hukuman yang sangat berat, antara lain hukuman mati atau potong tangan. Malaysia dan Cina menerapkan hukum yang sama. Sanksi untuk merokok di dalam kendaraan umum juga sangatlah berat, uang yang harus dibayar bukanlah jumlah yang sedikit.
Singapura, seperti Indonesia, memiliki penduduk dari banyak suku, agama dan ras yang berbeda, tetapi mereka bisa hidup selaras satu sama lain. Tidak ada acara ‘agamamu salah, agamaku benar’, kalaupun ada, hanya menjadi perdebatan yang tidak menyakiti dan merugikan orang lain.
APA bedanya Indonesia dengan Singapura? Indonesia adalah negara besar, sebesar negara-negara Eropa seluruhnya, atau setara dengan Amerika Serikat. Tanahnya subur dan kekayaan alamnya luar biasa, baik di darat, hutan, laut, maupun di dalam kandungan bumi. Sayang, rakyatnya miskin dan terus bertambah miskin.

Kekayaan alam dan kesuburan tanah yang dimiliki bangsa Indonesia tidak diperlakukan dengan baik, sehingga tidak mendatangkaan berkah, melainkan justru mudarat. Hutan yang mestinya memberikan kekayaan hayati yang luar biasa dirusak dan dibakar, sehingga menimbulkan banjir di musim hujan, dan mendatangkan asap kebakaran di musim kemarau. Sawah dan pegunungan yang mestinya membuat petani makmur justru menimbulkan bencana. Gunung meletus, sawah diganti pabrik dan menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan. Kalaupun petani bertahan, harga gabah dan beras terus merosot karena pemerintah kemudian mengimpor beras.

Lautan yang mestinya menjadi sumber kekayaan bagi bangsa dengan negara kepulauan ini tidak mengabarkan adanya nelayan yang hidup makmur. Kabar yang diterima dari sebagian besar nelayan juga sama, kemiskinan. Mereka terjerat utang rentenir, sehingga berapa pun ikan yang diperoleh dari laut tak kunjung cukup membayar para pembunga uang. Lautan yang merupakan wilayah terluas bagi bangsa Indonesia sesekali justru mendatangkan bencana besar berupa tsunami.

Sedangkan Singapura adalah negara kecil, setara dengan luasnya Bandung Raya. Jumlah penduduknya tak lebih dari enam juta orang. Singapura tidak memiliki kekayaan alam yang melimpah sebagaimana Indonesia. Mereka tidak memiliki tambang dari dalam tanahnya atau menghasilkan kayu dari hutan, demikian pula laut yang luasnya tidak seberapa. Meski demikian, kekayaan Singapura melebihi kekayaan Indonesia. Bahkan berbagai perusahaan dan bank di swasta di Indonesia, termasuk sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) sudah dibeli sahamnya oleh perusahaan-perusahaan Singapura.

Karena kemakmuran negaranya, rakyat Singapura terdidik baik (well educated). Meskipun pemerintah Singapura sering dikritik sebagai pemerintahan otoriter dan sangat keras, namun karena kekerasan hati pemerintah itulah telah melahirkan disiplin nasional yang sangat tinggi. Rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) dilaksanakan dengan sangat disiplin dan konsisten. Tanah yang sejak awal direncanakan untuk dibuat bangunan, jalan, atau tempat yang ha­rus dibeton maka dibangun­lah, tapi mereka tidak me­lupakan tanaman dan pohon.

Tanah yang seharusnya digunakan sebagai serapan air tetap dibiarkan terbuka tanpa dipaksakan dengan bangunan-bangunan apa pun. Akibatnya, selain sistem drainase yang begitu bagus, selama musim hujan pun tidak terdengar masyarakat Singapura kebanjiran. Sepanjang pagi hingga sore hari hujan sekalipun, kendaraan tetap hilir mu-dik dengan lancar tanpa dihadang banjir cileuncang. Pendek kata, begitu air datang maka air itu meresap dan dimanfaatkan untuk kehidupan berikutnya.

Musim hujan di Singapura pun taat asas. Rumus orang awam selalu mengatakan, Agustus adalah awal musim hujan. Sedangkan bulan-bulan sesudah itu merupakan puncak musim hujan. Rumus itu benar-benar sesuai dengan “rumus lama” di Indonesia. Sebab, iklim di Indonesia sudah tidak taat asas lagi. Akibat kerusakan lingkungan yang amat dahsyat, bulan-bulan yang diperkirakan masuk musim hujan justru tetap kemarau. Sebaliknya, bulan mestinya sudah musim kemarau justru malah musim banjir. Jangankan hujan sepanjang hari, satu atau dua jam turun hujan, maka banjir menggenang di mana-mana. Akibat lebih jauh, semua masyarakat Singapura relatif jauh terpelihara kesehatannya. Lingkungan hidup mereka sangat mendukung hidup sehat. Anak-anak mereka terdidik dengan baik, bahkan banyak sekali doktor lulusan Amerika, Eropa, dan Cina.

Khusus bidang kedokteran, dokter Singapura mendapatkan kesempatan jauh lebih luas untuk melanjutkan spesialisasi-spesialisasi tertentu. Bahkan karena saking kompetitifnya, banyak dokter spesialis yang spesifik. Misalnya, terdapat dokter khusus menangani trauma akibat olah raga. Berbagai rumah sakit juga dibangun baik milik pemerintah maupun swasta.

Tapi persoalannya, dari manakah pasien rumah-rumah sakit itu? Bukankah masyarakat Singapura relatif terjaga kesehatannya, sehingga sedikit yang sakit? Jumlah rumah sakit pasti tidak sebanding dengan jumlah pasien dari warga Singapura. Dari mana lagi pasien itu kalau bukan dari Indonesia.

“Dari pasien luar negeri, sebanyak 70% pasien berasal dari Indonesia, sisanya terbagi dari berbagai negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan negara-negara Asean lainnya, serta negara-negara Timur Tengah,” kata Suwandi Leo, Senior Marketing Manajer (Indonesia) Parkway Group Healthcare PTE LTD, yakni sebuah perusahaan pemasaran rumah-rumah swasta di Singapura seperti RS East Shore, Gleneagels, dan Mount Elizabeth.

Nah lho! Dan pasien itu akan semakin banyak. Alam dan iklim di Indonesia semakin tidak kondusif untuk manusia hidup. Hutan yang gundul dijamin akan mendatangkan banjir dan petaka. Asap dari gas buangan sudah tidak dijadikan pertimbangan lagi menjadi prasyarat tempat manusia hidup normal. Akibatnya, RS-RS di Indonesia selalu penuh sesak, sehingga tidak sedikit pasien yang datang pukul 10.00 pagi baru dapat kamar pukul 12.00 malam. Bahkan jauh lebih banyak masyarakat yang membiarkan dirinya sakit terbaring di rumah tanpa ada yang memedulikannya, karena para tetangganya juga sama-sama miskin sehingga tak mampu bergotong-royong membawa ke rumah sakit.

Di sisi lain, sebagian masyarakat Indonesia yang secara ekonomi lebih beruntung segera terbang ke Singapura untuk berobat. Bukankah perjalanan Jakarta-Singapura lebih cepat ketimbang Jakarta-Medan? Berobat di Singapura tidak perlu antre panjang, dan menunggu dokter yang tidak kunjung tiba. Justru berobat ke Singapura sudah dijemput sejak di bandara dan sampai rumah sakit langsung ditunggu dokter spesialisasi yang diinginkan.

Duh! Kok malah Singapura sih yang mampu melaksanakan “syukrun ni’mah“, maksudnya selalu mampu melipatgandakan kenikmatan yang dimilikinya. Sedangkan rakyat Indonesia justru kebagian “siksa Tuhan yang pedih” terus-menerus. Pasti ini terjadi missmanagement. Tapi siapa yang mampu memperbaikinya? (Wakhudin/”PR”)***

Sumber : http://riskyeka.web.ugm.ac.id/seva-mobil-bekas/