Unswagati Cirebon Jadi Tuan Rumah Rakerda ABP-PTSI Jabar 2018-2022

Unswagati Cirebon Jadi Tuan Rumah Rakerda ABP-PTSI Jabar 2018-2022

Unswagati Cirebon Jadi Tuan Rumah Rakerda ABP-PTSI Jabar 2018-2022

Unswagati Cirebon Jadi Tuan Rumah Rakerda ABP-PTSI Jabar 2018-2022
Unswagati Cirebon Jadi Tuan Rumah Rakerda ABP-PTSI Jabar 2018-2022

Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP-PTSI)

Jawa Barat (Jabar) Periode 2018-2022 menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda). Acara dipusatkan di Aula Kampus I Unswagati Cirebon, Rabu (12/9).

Rakerda dirangkai pula dengan Seminar Nasional dengan tema ‘Peran Pemerintah Provinsi, Kota dan Kabupaten Dalam Pengembangan Pendidikan Tinggi Di Jawa Barat’.

Hadir dalam pertemuan tersebut Kepala LLDIKTI Jawa Barat-Banten Uman Suherman, Kepala Disdik Jawa Barat Ahmad Hadadi, Ketua Umum ABP-PTSI Pusat Thomas Suyatn), Ketua ABT-PTSI Jawa Barat Sali Iskandar, Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Unswagati Letnan Jenderal Kuntara, Mayor Jenderal Moh. Iryanto dan Sultan Raja Pangeran Arief Natadiningrat, Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan Unswagati Sudarminto dan Ketua Yayasan Unswagati Dadang Sukandar Kasidin.

Selain itu, turut hadir civitas akademik Unswagati baik Rektor dan Warek maupun Unsur Pimpinan

, Unsur Dekan dan Direktur Pasca Unswagati, serta para Pengurus Yayasan Penyelenggara PTSI se-wilayah 3 Cirebon dan tamu undangan. Berkesempatan hadir pula Ketua dan pengurus ABP-PTSI Banten Mulya R. Rachmatoellah serta Para Koordinator Wilayah I-VI.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pendidikan Unswagati Cirebon Dadang Sukandar Kasidin mengatakan, kehadiran seluruh tamu undangan, peserta seminar dan Rakerda memberikan semangat baru untuk terus meningkatkan shillaturahmi dan sharing pengalaman dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan kompetitif melalui penyelenggaraan Pendidikan Tinggi.

Dadang Sukandar Kasidin memaparkan sekilas tentang perkembangan Unswagati,

mulai pertama kali didirikan hingga kondisi terkini.

“Yayasan Pendidikan Unswagati didirikan pada 16 Januari 1961 dengan akta notaris Mr. Djoko Mardeyo nomor 29 pada tanggal 16 Januari 1961,” ungkap Ketua Yayasan Dadang Sukandar Kasidin.

Disebutkannya, pendirian Yayasan Unswagati dimulai dari kesadaran para tokoh masyarakat, baik sipil maupun militer tentang kebutuhan masyarakat Cirebon dan sekitar untuk memperoleh kemudahan mendapatkan pendidikan tinggi.

“Selanjutnya, secara resmi Unswagati didirikan pada tanggal 26 Desember 1962, dengan pembukaan Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi,” paparnya.

Ia melanjutkan, pada tahun 1979 turut bergabung IKIP PGRI Ciwaringin Cirebon menjadi bagian dari Unswagati dan menjadi FKIP Unswagati. Lalu, berkembang dengan membuka beberapa Fakultas baru, seperti FISIP, Pertanian dan Tekhnik.

Di tahun 2001, Unswagati mendapat kepercayaan dengan membuka Program Pascasarjana untuk 2 Program Studi, yakni Magister Ilmu Administrasi dan Pertanian.

“Pada tanggal 11 Juli 2008, Unswagati mendapatkan kepercayaan kembali dari pemerintah untuk menyelenggarakan Fakultas Kedokteran,” ujarnya.

Dadang Sukandar Kasidin mengemukakan, hingga sekarang Unswagati memiliki 7 Fakultas dengan 14 Prodi dan 1 Sekolah Pascasarjana dengan 4 Prodi.

“Lulusan Unswagati sejak didirikan sampai dengan sekarang telah mencapai 27.326 (orang) yang termasuk di dalamnya lulusan Program Diploma sebanyak 2.794; Profesi Dokter sebanyak 146 orang; dan Magister sebanyak 686 orang lulusan,” sebutnya.

Di era makin berkembang, kata Ia, Unswagati mendapat dukungan dari Pemda, salah satunya kontribusi Pemkot Cirebon berupa keringanan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 50%. Begitu pun dari PLN, Unswagati dimasukkan ke dalam kelompok pembiayaan ‘Kegiatan Sosial’ yang sebelumnya masuk kelompok ‘Kegiatan Bisnis’.

Dadang Sukandar Kasidin berharap, melalui Rakerda ABP-PTSI tingkat Jawa Barat ini, pola kerja dan kemitraan dalam pengembangan SDM bidang Pendidikan Tinggi di seluruh daerah dapat ditingkatkan. Sehingga, dapat diformulasikan rekomendasi tentang peran Badan Penyelenggara (Yayasan) agar mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam rangka peningkatan dan pengembangan SDM, baik dari Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Kabupaten dan Kota.

Sebut saja, kata Ia, untuk memenuhi kebutuhan operasional PTS lainnya seperti biaya telfon dan internet.

 

Sumber :

https://thesrirachacookbook.com/awal-kehancuran-kerajaan-aceh/