Wanprestasi
Posted in: Umum

Wanprestasi

Wanprestasi

Wanprestasi artinya tidak memenuhi sesuatu yang diwajibkan seperti yang telah ditetapkan dalam perikatan. Tidak dipenuhinya kewajiban oleh debitur disebabkan oleh dua kemungkinan alasan, yaitu:

  1. Karena kesalahan debitur, baik dengan sengaja tidak dipenuhinya kewajiban maupun karena kelalaian.
  2. Karena keadaan memaksa (overmacht), force mejeure, jadi di luar kemampuan debitur. Debitur tidak bersalah.

Untuk menentukan apakah seorang debitur bersalah melakukan wanprestasi, perlu ditentukan dalam keadaan bagaimana debitur dikatakan sangaja atau lalai tidak memenuhi prestasi. Ada tiga keadaan, yaitu:

  1. debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali,
  2. debitur memenuhi prestasi, tetapi tetapi tidak baik atau keliru,
  3. debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak tepat waktunya atau terlambat.

Ada 4 macam bentuk wanprestasi, yaitu:

  1. Tidak memenuhi prestasi sama sekali
  2. Terlambat memenuhi prestasi
  3. Memenuhi prestasi tetapi tidak sempurna
  4. Melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban atau isi perikatan.

Wanprestasi

Apabila debitur melakukan wanprestasi, maka debetur dapat dikenai sanksi-sanksi atau hukuman-hukuman.

  1. Dipaksa untuk memenuhi perikatan
  2. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur
  3. Pembatalan/pemecahan perikatan
  4. Peralihan resiko
  5. Membayar biaya perkara kalau sampai diperkarakan ke Pengadilan.

Terhadap debetur yang melakukan wanprestasi, kreditur dapat memilih tuntutan-tuntutan sebagai berikut:

  1. Pemenuhan perjanjian.
  2. Pemenuhan perjanjian disertai dengan ganti rugi.
  3. Ganti rugi saja.
  4. Pembatalan perjanjian.
  5. Pembatalan perjanjian disertai dengan ganti rugi.

Menurut pasal 1246 KUH Pdt, ganti rugi yang dapat dibebankan pada debetur yang wanprestasi adalah:

  1. Kerugian yang nyata-nyata diderita oleh kreditur yang disebut dengan Damnun Emergens.

Contoh: Barang yang dititipkan rusak atau musnah

  1. Keuntungan yang seharusnya diperoleh yang disebut LUCRUM CESANS.

Contoh: A berjanji menjual sebuah mobil dengan harga Rp. 100 juta kepada B. tetapi pada saat yang dujanjikan A tidak dapat melever sehingga B terpaksa membeli mobil dengan  merk dan kwalitas yang sama dengan yang dijanjikan A seharga Rp 125 juta. Dalam hal ini kalau B membeli mobil A ia akan mendapat keuntungan Rp 25 juta, tetapi sebaliknya B malah menerima kerugian sebesar Rp 25 juta. Inilah keuntungan yang dialihkan pada orang lain.

Akibat hukum bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi adalah hukuman atau saksi hukum berikut ini:

  1. Debitur diwajibkan membayar ganti kerugian yang telah diderita oleh kreditur (pasal 1243 KUH Perdata);
  2. Apabila perikatan itu timbal balik, kreditur dapat menuntut pemutusan/pembatalan perikatan melalui Hakim (pasal 1266 KUH Perdata);
  3. Dalam perikatan untuk memberikan sesuatu, resiko berlaih kepada debitur sejak terjadi wanprestasi (pasal 1237  ayat 2);
  4. Debitur diwajibkan memenuhi perikatan jika masih dapat dilakukan, atau pembatalan disertai pembayaran ganti kerugian (pasal 1267 KUH Perdata);
  5. Debitur wajib membayar biaya perkara jika diperkarakan di muka Pengadilan Negeri, dan debitur dinyatakan bersalah;
  6. Keadaan Mamaksa (overmacht).

Keadaan memaksa ialah keadaan tidak dipenuhinya prestasi oleh debitur karena peristiwa yang yang tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga akan terjadi ketika membuat perikatan. Dalam keadaan memaksa, debitur tidak dapat dipersalahkan, karena keadaan ini timbul diluar kemauan dan kemampuan debitur. Unsur-unsur keadaan memaksa adalah sebagai berikut:

  1. Tidak  dipenuhinya  prestasi   karena   terjadi   peristiwa    yang membinasakan / memutuskan benda objek perikatan; atau
  2. Tidak dipenuhinya prestasi karena terjadi peristiwa yang menghalangi perbuatan debitur untuk berprstasi;
  3. Peristiwa itu tidak dapat diketahui atau diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan.

Dalam hal ini keadaan memaksa yang memenuhi unsur satu dan tiga, maka keadaan memaksa ini disebut “keadaan memaksa objektif”. Vollmar menyebutnya dengan absolute overmacht. Dasarnya ialah ketidakmungkinan (impossibility) memenuhi prestasi, karena bendanya lenyap/musnah. Misalnya jual beli lukisan karapan sapi karya Afandi, ketika akan diserahkan kepada pembeli di sebuah hotel, lukisan tersebut terbakar habis bersama-sama mobil yang membawanya karena kecelakaan lalu lintas. Peristiwwa ini mengakhiri perikatan karena tidak mungkin dapat dipenuhi oleh debitur.